Prabowo, mirip dengan MSCI, juga dikabarkan menyoroti praktik ‘saham gorengan’ yang merusak pasar dan seolah dibiarkan saja.
Upaya untuk mengonfirmasi kabar ultimatum ini kepada beberapa pejabat OJK yang mundur tidak mendapat balasan.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah Prabowo marah. “Beliau santai aja,” katanya. Meski begitu, Purbaya mengakui para pejabat yang mundur memang merasa bersalah.
Analis Reza Priyambada punya pendapat menarik. Dia menilai pengunduran diri massal ini terkesan tergesa. Bagi Reza, sentimen negatif di pasar bisa datang dari mana saja. Langkah ini justru mengindikasikan disharmoni di internal pemerintah.
kata Direktur PT Reliance Sekuritas itu.
Reza mengingatkan, pergantian pejabat harus benar-benar demi pertanggungjawaban kinerja, bukan sekadar tekanan politik. Kalau tidak, pasar modal hanya akan jadi ajang rebutan pengaruh.
Lalu, Bagaimana Memperbaikinya?
Mundurnya para pejabat ternyata belum langsung menenangkan pasar. Senin (2/2), IHSG masih terperosok 4,88%. Handi memprediksi investor akan wait and see setidaknya seminggu ke depan. Lucky Bayu bahkan menyebut periode ketidakpastian ini bisa berlangsung 1-2 bulan.
Menurut Handi, yang paling mendesak sekarang adalah menjawab tuntutan MSCI soal free float dan transparansi data sebelum batas waktu Mei. Plus, memberantas ‘saham gorengan’.
ujarnya.
Dia berharap pengganti Iman dan komisioner OJK nanti adalah orang-orang yang benar-benar paham pasar, bukan sekadar politisi. Momentum kelam ini, kata Handi, harus jadi awal bersih-bersih ekosistem pasar modal.
Untuk mengisi kekosongan sementara, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua dan Wakil Ketua. Sementara Hasan Fawzi merangkap jabatan. Di BEI, Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Pjs Dirut.
Pemerintah, lewat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan. Mulai dari menaikkan batas minimal free float jadi 15%, transparansi kepemilikan, hingga penindakan tegas ‘saham gorengan’ dengan melibatkan Bareskrim Polri.
tegas Airlangga.
Tapi Reza Priyambada mengingatkan soal batas transparansi. Jangan sampai data nasabah investor justru terbuka lebar untuk pihak asing.
Upaya lain yang digodok adalah demutualisasi BEI, dimana saham bursa bisa dimiliki investor di luar perusahaan sekuritas. Bahkan BEI bisa melantai di bursanya sendiri. Danantara disebut-sebut berminat mengakuisisi 15-30% saham BEI.
Handi dan Nafan menilai positif rencana ini. Tapi Lucky Bayu khawatir. Baginya, jika Danantara yang juga pemegang saham BUMN menjadi pemilik sekaligus regulator, konflik kepentingan bisa terjadi.
tuturnya.
Jalan perbaikan masih panjang. Semua kini menunggu, apakah langkah-langkah ini bisa mengembalikan kepercayaan, atau justru membawa gejolak baru.
Artikel Terkait
Jeffrey Hendrik Pimpin Sementara BEI, Kursi Direktur Utama Baru Tunggu 2026
Gentengisasi Prabowo: Arsitek Ingatkan Tak Ada Atap yang Cocok untuk Semua Daerah
IHSG Tembus 8.000, Optimisme Investor Melonjak
IHSG Melonjak 200 Poin, Sentimen MSCI Picu Rebound Spektakuler