IHSG Tembus 8.000, Optimisme Investor Melonjak

- Selasa, 03 Februari 2026 | 17:35 WIB
IHSG Tembus 8.000, Optimisme Investor Melonjak

Siang ini, IHSG benar-benar menunjukkan taringnya. Indeks Harga Saham Gabungan berhasil menembus level psikologis yang ditunggu-tunggu banyak pelaku pasar: 8.000. Sampai dengan pukul 14.45 WIB, posisinya sudah berada di 8.049. Angka itu berarti kenaikan cukup signifikan, sekitar 1,6 persen dari level pembukaan di 7.888.

Gairah perdagangan pun terlihat jelas. Volume transaksi tercatat mencapai 493 miliar saham, dengan nilai yang beredar menyentuh Rp23 triliun. Ini bukan sekadar angka biasa, melainkan cerminan optimisme yang mulai merambat di kalangan investor domestik.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melihat pergerakan ini masih dalam koridor positif secara teknikal.

"Secara teknikal, IHSG semestinya bisa menguat setelah menguji 38,2 persen Fibonacci retracement yang didukung oleh indikator RSI yang sebelumnya menunjukkan kondisi oversold," jelasnya.

Menurut analisanya, IHSG punya penyangga di area 7.836 dan 7.701. Sementara itu, hambatan terdekat ada di level 8.054 dan 8.210. Selama indeks bisa bertahan di atas support, peluang untuk melanjutkan penguatan masih terbuka lebar.

Di sisi lain, sentimen domestik juga ikut mendorong. Pasar merespons baik langkah-langkah perbaikan dari regulator. OJK, BEI, dan KSEI baru-baru ini mengajukan sejumlah usulan reformasi pasar modal ke MSCI. Intinya sih, mereka ingin transparansi kepemilikan saham ditingkatkan, likuiditas pasar diperluas, dan batas minimum free float dinaikkan bertahap dari 7,5 persen jadi 15 persen. Target awal implementasinya Maret 2026.

Tak cuma itu, penguatan kualitas data investor juga digenjot. Caranya dengan mengklasifikasikan 27 sub-tipe investor dan berkomitmen memperbarui datanya secara rutin.

Bagaimana dengan sentimen global? Ternyata masih cukup mendukung. Mayoritas pelaku pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan mendatang. Meski begitu, peluang pemotongan suku bunga di pertengahan 2026 tetap ada, asalkan inflasi bisa dikendalikan. Optimisme terhadap laporan keuangan emiten teknologi raksasa dan antisipasi data tenaga kerja AS juga bikin pasar global lebih cerah.

"Kombinasi sentimen teknikal, domestik, dan eksternal tersebut menjadi faktor pendukung bagi IHSG untuk tetap bergerak stabil dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek," pungkas Nafan.

Jadi, semua faktor seolah bersatu. Teknikal mendukung, sentimen domestik hangat, dan kondisi eksternal tidak terlalu membebani. Untuk sementara, suasana pasar saham kita terasa lebih hangat dan berpeluang melanjutkan langkahnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar