Pembangunan fisik untuk 30 ribu unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ditargetkan rampung pada Maret 2026 mendatang. Target itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Namun begitu, Zulhas sapaan akrabnya menegaskan bahwa penyelesaian bangunan bukan berarti koperasi-koperasi itu bisa langsung berjalan maksimal.
“Selesai dibangun, belum operasional penuh, lain cerita,” katanya.
Zulhas menjelaskan lebih lanjut dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (29/1). Menurutnya, butuh proses setelah gedungnya berdiri. “Dibangun mudah-mudahan nanti bulan Mei, Maret (atau) Mei ini 30.000 bisa kelar bangunannya. Belum bisa operasi penuh,” ujarnya.
Setiap unit, papar mantan Menteri Perdagangan itu, perlu mempersiapkan lini bisnisnya terlebih dahulu. Mulai dari pengisian sembako, persiapan gas elpiji, sampai pengadaan kendaraan operasional. Semua itu butuh waktu.
“Saya kira 2 bulan perlu waktu setelah itu,” imbuh Zulhas mengenai jeda antara pembangunan fisik dan operasi penuh.
Di sisi lain, target yang lebih besar justru disampaikan oleh Menteri Koperasi, Ferry Juliantono. Dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Senayan, Selasa (18/11), Ferry menyebut angka 80 ribu unit.
Target ambisius ini disebutnya berasal dari permintaan langsung Presiden Prabowo Subianto. Permintaan itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Paripurna pada 21 Oktober lalu.
”Beliau merencanakan Insya Allah tahun depan di bulan Maret atau mungkin April itu akan selesai bangunan fisik seluruh 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini dan siap beroperasi,” kata Ferry.
Jadi, meski angka targetnya berbeda antara satu pejabat dan pejabat lain, yang jelas pemerintah punya garis waktu yang hampir bersamaan. Fokusnya sekarang: menyelesaikan bangunan fisik dulu. Operasionalnya? Itu cerita berikutnya.
Artikel Terkait
BSSR Tetapkan Kurs Dividen Final Rp18.171 per Dolar AS, Total Bagikan Rp1,27 Triliun
Debitur Alihkan Jaminan Fidusia Tanpa Izin, PT MNC Guna Usaha Indonesia Tempuh Jalur Hukum
Telkom Resmi Terbitkan Laporan Keberlanjutan 2025, Perkuat Integrasi ESG dan Transisi Rendah Karbon
OJK: Mayoritas Indikator Aksesibilitas Pasar Modal Indonesia Kokoh, Dua Kriteria Masih Perlu Perbaikan