Ali Mochtar Ngabalin: AS di Bawah Trump Sedang Mendikte Iran, Bukan Berperang

- Jumat, 01 Mei 2026 | 01:25 WIB
Ali Mochtar Ngabalin: AS di Bawah Trump Sedang Mendikte Iran, Bukan Berperang

JAKARTA Ali Mochtar Ngabalin, Guru Besar Hubungan Internasional dari Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan, baru-baru ini mengupas soal panasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, apa yang terjadi sekarang bukanlah perang dalam arti yang biasa kita bayangkan. Lebih tepatnya, ini adalah upaya AS di bawah komando Donald Trump untuk mendikte Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Ngabalin dalam program Interupsi di iNews, Kamis (30/4/2026). Mantan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) ini menyoroti karakter Trump sebagai pemimpin negara adikuasa. Sosoknya, kata Ngabalin, sangat dominan.

“Karena begini ya… Donald Trump itu kan sosok seorang pemimpin yang suka tidak suka, dia memimpin sebuah negara adikuasa, negara super power. Karena super power, adikuasa, kemudian watak dan karakter dirinya yang boleh kita setuju atau tidak setuju sama dengan negaranya, maka apa saja yang dia lakukan itu bisa terjadi,” ucap Ngabalin.

Di sisi lain, Ngabalin menilai kekuatan militer dan politik antara kedua negara tidak seimbang. Jauh panggang dari api, katanya. Konflik ini ia sebut sebagai perang asimetris. Posisi Iran dan kelompok proksinya, menurut dia, berada jauh di bawah bayang-bayang kekuatan Amerika Serikat.

“Sampai hari ini saya tetap berpendapat bahwa ini bukan saling perang sebetulnya. Tapi Amerika itu, dengan kekuasaan super power-nya, dengan adikuasanya, dengan watak dan pendirian Trump hari ini, dia sedang mendikte Teheran. Dia mendikte, loh,” katanya.

Ngabalin juga meragukan klaim dari pihak Teheran yang menyatakan siap mengakhiri perang jika AS memulainya. Menurutnya, daripada sibuk berspekulasi atau beretorika perang, Iran seharusnya memanfaatkan momentum ini untuk jalan diplomasi. Dialog terbuka, katanya, jauh lebih penting.

“Bahkan saya ada beberapa artikel yang saya tulis. Saya bilang, ada momentum di mana sebetulnya Teheran itu harus menggunakan waktu yang tepat ini untuk melakukan diplomasi, bicara. Karena sedahsyat apapun tingkat spekulasi yang dilakukan, bertemu itu penting,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa pertemuan fisik dan negosiasi adalah kunci untuk meredam konflik. Dalam pandangannya, perang hanyalah instrumen lain dari proses tawar-menawar politik yang buntu.

“Kenapa perang itu terjadi? Karena orang tidak bertemu dalam satu titik pembicaraan. Jadi perang itu menurut ahli perang adalah cara lain dalam orang melakukan negosiasi politik,” ucapnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar