Pemkab Bekasi Petakan Lima Kecamatan Rawan Kekeringan, Antisipasi Gagal Panen di Musim Kemarau

- Senin, 15 Juni 2026 | 22:15 WIB
Pemkab Bekasi Petakan Lima Kecamatan Rawan Kekeringan, Antisipasi Gagal Panen di Musim Kemarau

Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai memperkuat langkah mitigasi kekeringan di lahan pertanian sebagai antisipasi dini terhadap potensi gagal panen atau puso di tengah musim kemarau. Upaya ini tidak hanya bertujuan melindungi hasil panen para petani, tetapi juga menjaga stabilitas produksi pangan daerah yang selama ini menjadi salah satu lumbung padi utama di Provinsi Jawa Barat.

Meskipun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kekeringan maupun puso, Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, menegaskan bahwa penguatan mitigasi harus terus dilakukan sebagai langkah pencegahan. Ia menyampaikan hal tersebut di Cikarang pada Senin, 15 Juni 2026.

Salah satu langkah awal yang ditempuh adalah pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Dodo menjelaskan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah kecamatan yang masuk dalam kategori rawan kekeringan, yaitu Kecamatan Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya. Pemetaan ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyusun strategi perlindungan lahan pertanian sekaligus meminimalisasi dampak ekonomi yang mungkin dialami petani.

“Kami petakan wilayah rawan kekeringan terutama di Kecamatan Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi dan Sukakarya,” jelas Dodo.

Selain pemetaan, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi juga melakukan pendataan terhadap alat dan mesin pertanian, khususnya pompa air. Langkah ini merupakan bagian dari strategi menghadapi kemungkinan penurunan pasokan air irigasi selama musim kemarau. Pemerintah daerah pun menjalin koordinasi dengan berbagai instansi terkait, seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pertanian, Dinas Sumber Daya Air Jawa Barat, serta kelompok tani setempat.

“Hasil koordinasi ditindaklanjuti dengan perbaikan saluran irigasi, penguatan tanggul serta pengaturan distribusi air agar kebutuhan petani tetap terpenuhi selama musim kemarau,” ujar Dodo.

Di sisi lain, para petani, khususnya yang berada di wilayah rawan kekeringan, didorong untuk menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air. Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, serta varietas lokal yang memiliki karakter toleran terhadap kekeringan.

Langkah antisipasi lainnya mencakup penyesuaian jadwal tanam sesuai prakiraan iklim setempat agar tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau. Pemerintah daerah juga mengidentifikasi sumber-sumber air potensial, mendata sumur dan pompa air, serta memobilisasi sarana pompanisasi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan. Normalisasi dan perbaikan saluran irigasi, termasuk pembangunan jaringan perpipaan, turut menjadi prioritas yang dikoordinasikan dengan instansi terkait.

“Kami juga mengimbau petani untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko gagal panen akibat bencana alam maupun perubahan iklim,” kata Dodo.

Melalui serangkaian langkah tersebut, Dodo berharap produktivitas pertanian di Kabupaten Bekasi dapat terus terjaga dan ketahanan pangan daerah tetap terjamin di tengah potensi dampak musim kemarau tahun ini. Sebagai informasi, produksi padi di Kabupaten Bekasi pada 2025 tercatat mencapai 500.188,91 ton Gabah Kering Giling (GKG), melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 500.000 ton. Capaian ini menegaskan posisi Kabupaten Bekasi sebagai salah satu lumbung padi dan penopang utama ketahanan pangan di Jawa Barat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar