Wall Street Mixed di Akhir April, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020

- Kamis, 30 April 2026 | 22:20 WIB
Wall Street Mixed di Akhir April, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020

IDXChannel Wall Street memulai perdagangan Kamis (30/4/2026) dengan gerak yang campur aduk. Tapi, ada kabar menarik: Indeks S&P 500 dan Nasdaq bersiap menutup bulan April dengan kenaikan terbesar sejak 2020. Lumayan, kan?

Dow Jones Industrial Average melesat 429,39 poin, atau 0,88 persen, ke posisi 49.233,73. Sementara S&P 500 cenderung datar di 7.138,78. Namun, Nasdaq Composite justru terpeleset 77,65 poin, atau 0,31 persen, ke level 24.595,59.

Kalau dilihat lebih jauh, S&P 500 sedang dalam perjalanan menuju kenaikan bulanan paling gemilang sejak November 2020. Nasdaq? Ini bulan terbaiknya sejak April 2020. Dan Dow Jones? Nah, ini bulan terkuatnya sejak November 2024. Lumayan untuk ukuran pasar yang lagi dihantam ketidakpastian.

Di sisi lain, yang menarik perhatian adalah bagaimana pendapatan perusahaan-perusahaan besar ternyata cukup kuat. Ini semacam tameng yang meredam kekhawatiran investor, meskipun di saat bersamaan ada guncangan pasokan minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Agak ironis, ya?

Reli ini seolah bilang, investor sangat percaya pada ketahanan laba perusahaan. Mereka seakan menutup mata dari gejolak geopolitik yang lagi panas. Tapi, risikonya jelas: kalau tiba-tiba perusahaan mulai kasih sinyal bahwa biaya akibat perang mulai menggerus pertumbuhan, pasar bisa jatuh cepat. Tinggal menunggu waktu.

"Saya rasa ada tarik-menarik besar di sini. Tapi untuk sekarang, sisi pendapatan yang menang," ujar Angelo Kourkafas, Ahli Senior Strategi Investasi Global di Edward Jones, seperti dikutip dari Reuters.

"Pasar mencoba mengabaikan ketidakpastian jangka pendek. Tapi tentu saja, semakin lama situasi ini berlangsung, tekanannya akan semakin akut," tambahnya.

Data yang dirilis Kamis lalu menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat di kuartal I-2026, didorong oleh belanja pemerintah. Tapi, jangan keburu senang dulu. Kenaikan ini kemungkinan cuma sementara. Perang dengan Iran sudah mendongkrak harga bensin, dan itu jelas menekan anggaran rumah tangga. Jadi, waspada.

Sementara itu, pendapatan perusahaan teknologi besar sebagian besar solid. Alphabet, perusahaan induk Google, sahamnya naik 6,1 persen dan mencetak rekor tertinggi. Ini setelah kuartal yang luar biasa untuk unit cloud mereka.

Namun begitu, Meta Platforms dan Microsoft justru ambles. Masing-masing turun 8,4 persen dan 4,8 persen sehari setelah mereka mengumumkan rencana belanja modal. Amazon juga ikut-ikutan turun 2,1 persen, meskipun hasil penjualan cloud-nya sebenarnya di atas ekspektasi. Aneh, ya? Kadang pasar punya logikanya sendiri.

Investor juga masih mencerna pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu. Bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga. Tapi, tiga pejabat Fed memberi sinyal bahwa inflasi masih terlalu tinggi, jadi jangan harap ada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Menariknya, di tengah semua ini, S&P 500 mencatat 20 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu, plus 13 rekor terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 54 rekor tertinggi baru dan 71 rekor terendah baru. Pasar benar-benar tidak bisa ditebak.

(Dhera Arizona)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar