Peneliti BRIN Ungkap Rantai Makanan Kacau Jadi Pemicu Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta

- Jumat, 01 Mei 2026 | 01:30 WIB
Peneliti BRIN Ungkap Rantai Makanan Kacau Jadi Pemicu Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta

JAKARTA Populasi ikan sapu-sapu di Jakarta meledak. Dan seorang peneliti dari BRIN punya penjelasan kenapa ini bisa terjadi.

Triyanto, peneliti ahli muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional, buka suara soal fenomena ini. Menurut dia, semuanya berawal dari satu hal: rantai makanan yang kacau.

Dalam ilmu ekologi, katanya, keseimbangan populasi itu sangat bergantung pada predator alami. Kalau rantai makanan terputus, satu spesies bisa mendominasi. Dan itu yang terjadi sekarang.

“Populasi predator alaminya harus seimbang juga, yang mampu bisa mengontrol si ikan sapu-sapu ini,” ujar Triyanto di kantor BRIN, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).

Dia lalu memberi analogi sederhana. Bayangkan serigala dan domba di alam liar. Kalau serigala hilang, domba akan berkembang biak tanpa kendali. Kurang lebih seperti itulah yang terjadi pada ikan sapu-sapu di perairan Jakarta.

Tapi ada satu hal yang bikin masalah ini makin rumit. Ikan sapu-sapu bukan spesies asli Indonesia. Jadi alam, kata Triyanto, tidak bisa bekerja sendirian. Perlu campur tangan manusia.

“Menurut saya ya, karena dia memang bukan asli di Indonesia dan punya karakter unik, tetap harus ada campur tangan manusia sebagai manajerialnya,” jelasnya.

Di sisi lain, Triyanto menekankan bahwa penanganan ikan ini harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan asal bertindak. BRIN sendiri mendorong pendekatan yang konservatif, tapi tetap terukur dan tepat sasaran.

“Lebih baik kita secara konservatif tapi terukur dan presisi dalam mengendalikan ikan sapu-sapu ini. Saya kurang setuju dengan pemusnahan. Alangkah bijaknya penanganan melalui penangkapan yang rutin,” tuturnya.

Jadi intinya, bukan soal membasmi sampai habis. Tapi soal mengelola. Dengan cara yang teratur. Dan tentu saja, berkelanjutan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar