Kelima sinergi itu meliputi stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, percepatan hilirisasi industri, serta penguatan ekonomi kerakyatan. Tak ketinggalan, peningkatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan, plus akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional yang didukung kerja sama bilateral dan regional.
Di sisi lain, BI sendiri terus menggenjot implementasi bauran kebijakannya. Mulai dari moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, hingga pengembangan UMKM dan ekonomi syariah. Semua dikerahkan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Lalu bagaimana dengan cadangan devisa? Dalam dinamika global yang serba tak pasti ini, BI mengelolanya dengan penuh kehati-hatian dan adaptif. Cadangan devisa tetap diandalkan sebagai penyangga utama stabilitas ekonomi. Pengelolaannya memperhatikan betul perkembangan suku bunga global, gerak-gerik nilai tukar dolar AS, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Tujuannya satu: menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas perekonomian nasional.
Pandangan positif datang dari Paul Jackson, Global Head of Asset Allocation Invesco. Dia menilai Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang lumayan baik meski diterpa volatilitas global.
Menurut Jackson, kuncinya ada pada pengelolaan cadangan devisa yang prudent. Pendekatan investasi yang lebih adaptif, katanya, menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional ke depan.
Artikel Terkait
Mari Pangestu Tegaskan: Ekonomi Hijau Bukan Beban, Melainkan Strategi Pertumbuhan
ESDM Buka Suara Soal Alih Kelola Tambang Martabe ke BUMN
Kemenperin Buka Suara Soal Strategi Pengrajin Emas Hadapi Lonjakan Harga
Analis Soroti Pelayaran: Saham Ini Jadi Incaran di Tengah IHSG Berguncang