Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz

- Selasa, 17 Maret 2026 | 22:15 WIB
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Wall Street kembali menunjukkan napas lega di awal sesi Selasa (17/3). Setelah sempat tegang oleh lonjakan harga minyak, bursa saham AS dibuka menguat seiring meredanya sentimen negatif itu.

Indeks Dow Jones melonjak 0,8% ke level 47.303,81. Sementara S&P 500 dan Nasdaq juga ikut merangkak naik, masing-masing 0,6% dan 0,5%. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya.

Nah, apa pemicunya? Ternyata, pasar mulai mencium angin optimis. Ada harapan baru soal pembukaan kembali Selat Hormuz jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia. Menurut sejumlah saksi, harapan itu muncul dari kemungkinan terbentuknya koalisi internasional untuk mendukung upaya Amerika Serikat.

Namun begitu, suasana hati pasar masih mudah berubah. Dinamika geopolitik tetap jadi bayang-bayang yang mengkhawatirkan. Konflik AS dan Israel dengan Iran belum mereda, malah makin panas. Respons Teheran yang tak terduga terus menambah ketidakpastian global.

Di sisi lain, respons sekutu AS pun terbelah. Inggris dan Prancis membuka peluang diskusi untuk memberi dukungan. Berbeda dengan Jerman dan Jepang yang justru menolak permintaan bantuan langsung dari Presiden Donald Trump.

Meski sentimen membaik, harga minyak di pasar komoditas tetap membandel. Brent crude dan WTI masih bertengger di atas level USD 100 dan USD 94 per barel. Secara keseluruhan, kenaikan harganya sudah tembus 40% lebih sejak serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Cukup gila, kan?

Ketegangan makin terasa setelah ada laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Fujairah, Uni Emirat Arab. Insiden itu cuma bikin kerusakan ringan, sih. Tapi dampak psikologisnya besar menambah kekhawatiran bakal terganggunya jalur distribusi energi global. Belum lagi kebakaran di fasilitas minyak yang diduga akibat serangan drone. Risiko gangguan pasokan jelas makin nyata.

Dampaknya langsung terasa di sektor lain, seperti penerbangan.

Ed Bastian, CEO Delta Air Lines, mengaku perusahaannya terpaksa menaikkan sebagian tarif tiket. Langkah itu buat mengimbangi biaya bahan bakar yang melonjak dua kali lipat sejak awal tahun.

Menariknya, meski ada tekanan biaya, saham Delta justru meroket hampir 5%. Rupanya, proyeksi laba mereka tetap sesuai panduan. Pasar seperti memberi apresiasi atas kemampuan manajemen menghadapi badai ini.

Di tengah semua gejolak ini, mata pelaku pasar kini tertuju ke sejumlah bank sentral utama. Federal Reserve, ECB, dan Bank of Japan akan menggelar rapat pekan ini. Keputusan mereka dinanti-nanti.

Lukman Otunuga, seorang analis di FXTM, punya pandangan menarik. Ia menilai bank sentral sedang terjepit dalam dilema yang kompleks. Di satu sisi harus menjaga pertumbuhan ekonomi, di sisi lain harus meredam inflasi yang dipicu konflik.

"Risiko inflasi berbasis geopolitik ini bisa memaksa peninjauan ulang kebijakan suku bunga," ujarnya. "Dan itu artinya, volatilitas pasar keuangan global bisa makin menjadi."

Ketegangan geopolitik ternyata juga merambah hubungan diplomatik. Presiden Trump dikabarkan meminta penundaan pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping. Di balik itu, ada desakan agar Beijing turut membantu mengamankan Selat Hormuz. Tampaknya, China yang selama ini jadi pembeli utama minyak Iran punya kepentingan berbeda. Hingga kini, respons positif dari Beijing belum kelihatan.

Sementara dari sisi korporasi, investor masih punya banyak hal untuk ditunggu. Laporan kinerja dari raksasa seperti DocuSign dan Lululemon Athletica akan segera dirilis. Selain itu, pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menarik perhatian. Ia memproyeksikan penjualan chip AI bisa menembus angka fantastis: USD 1 triliun pada 2027. Sebuah angka yang sulit dibayangkan, tapi datang dari perusahaan yang memang sering mengejutkan pasar.

Jadi, meski dibuka dengan warna hijau, perjalanan pasar saham pekan ini masih panjang. Dipenuhi oleh tarik-ulur antara harapan dan ketakutan, antara data korporasi dan gejolak geopolitik. Semuanya berbaur dalam satu hari perdagangan yang tak pernah membosankan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar