Namun, pasar punya hal lain yang dicemaskan: risiko geopolitik. Ketegangan AS-Iran kembali memanas, membuat banyak orang waspada. Pekan lalu, Presiden Donald Trump menyebut AS punya “armada” yang menuju ke Iran. Ia bilang berharap tidak perlu menggunakannya, tapi peringatan itu jelas ditujukan ke Teheran agar tidak membunuh demonstran atau main-main dengan program nuklirnya.
Tanggapan Iran tak kalah keras. Seorang pejabat senior mereka pada Jumat (23/1) menegaskan, setiap serangan akan dianggap sebagai “perang total”.
“Secara keseluruhan, harga minyak mentah masih bergerak dalam pola perdagangan yang cenderung menunggu kejelasan mengenai bagaimana pemerintahan Trump akan menangani Iran,” kata Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial.
Ia menambahkan, ada faktor lain yang juga menekan harga. Seperti kelanjutan perundingan perdamaian antara Ukraina, Rusia, dan AS, plus sikap OPEC yang kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan produksi mereka dalam pertemuan mendatang.
Soal OPEC ini, tiga delegasi yang diwawancarai Reuters menyebut, mereka cenderung akan tetap menahan kenaikan produksi untuk Maret. Pertemuannya dijadwalkan hari Minggu.
Sementara itu, dari sisi proyeksi jangka panjang, peringatan datang dari Jarand Rystad, CEO Ryatad Energy. Ia bilang, produksi minyak serpih AS berpotensi turun drastis hingga 400 ribu barel per hari pada 2026. Itu bisa terjadi jika negara-negara OPEC nekat meningkatkan pangsa pasar dan harga minyak terjun bebas ke level USD 40 per barel. Situasi yang tentu tidak diinginkan siapa pun.
Artikel Terkait
Paripurna DPR Sahkan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Pengamat Politik: Pengangkatan Thomas Djiwandono di BI Sesuai Koridor dan Beri Nilai Tambah
Hypefast Pacu IPO 2027 dengan Transformasi Menjadi Raksasa Ritel Terintegrasi
Cadangan Baru di Selat Malaka: ENRG Temukan 31 Juta Barel Minyak di Riau