Setelah melonjak lebih dari dua persen di akhir pekan lalu, harga minyak mentah justru melemah tipis pada perdagangan Senin (26/1). Tampaknya, investor mulai mencerna dampak badai musim dingin yang sempat mengacaukan produksi minyak AS, plus ketegangan geopolitik yang belum reda antara Washington dan Teheran.
Mengutip laporan Reuters, minyak Brent turun 29 sen atau 0,4% ke level USD 65,59 per barel. Sementara itu, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melemah lebih dalam, 44 sen atau 0,7%, menjadi USD 60,63 per barel. Meski begitu, kalau dilihat dari catatan mingguan, kedua patokan ini masih naik 2,7% dan ditutup Jumat kemarin di posisi tertinggi sejak pertengahan Januari.
Badai musim dingin itu memang bikin pusing. Analis dan pelaku pasar memperkirakan, produksi minyak AS anjlok hingga 2 juta barel per hari selama akhir pekan. Angka itu setara dengan 15% dari total produksi nasional. Infrastruktur energi dan jaringan listrik terpukul cukup berat.
Konsultan Energy Aspects menyebut, gangguan produksi memuncak pada Sabtu (24/1). Cekungan Permian, wilayah penghasil utama, mengalami penurunan terparah sekitar 1,5 juta barel per hari. Namun begitu, situasi mulai membaik pada Senin. Produksi yang masih terhenti di Permian diperkirakan tinggal 700 ribu barel per hari, dan diproyeksikan pulih total menjelang akhir bulan.
“Regulator melaporkan sekitar dua lusin gangguan operasional di fasilitas pengolahan gas dan stasiun kompresor di Texas selama akhir pekan,” kata seorang analis TACenergy. Jauh lebih sedikit, katanya, dibandingkan lebih dari 200 laporan gangguan saat badai parah melanda pada 2021.
Di belahan dunia lain, Kazakhstan mengaku siap melanjutkan produksi di ladang minyak terbesarnya. Begitu pernyataan resmi kementerian energi mereka pada Senin. Tapi, ceritanya belum beres benar. Sumber industri mengungkapkan, volume produksi masih rendah dan status force majeure untuk ekspor CPC Blend belum dicabut.
Konsorsium Pipa Kaspia, yang mengoperasikan jalur ekspor utama negara itu, memberi kabar sedikit melegakan. Terminal Laut Hitam mereka sudah beroperasi penuh lagi sejak Minggu (25/1), setelah perawatan di salah satu titik tambat rampung.
Artikel Terkait
Paripurna DPR Sahkan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Pengamat Politik: Pengangkatan Thomas Djiwandono di BI Sesuai Koridor dan Beri Nilai Tambah
Hypefast Pacu IPO 2027 dengan Transformasi Menjadi Raksasa Ritel Terintegrasi
Cadangan Baru di Selat Malaka: ENRG Temukan 31 Juta Barel Minyak di Riau