Ambisi Zijin jelas. Awal bulan ini saja mereka sudah menyatakan rencana agresif untuk melakukan akuisisi global, terutama di sektor emas dan tembaga. Target mereka? Pertumbuhan produksi dua digit untuk kedua logam berharga itu.
Namun begitu, jalan mereka tidak sepenuhnya mulus. Kanada, tempat Allied berbasis, belakangan memperketat aturan untuk investasi asing di sektor pertambangan. Aturan baru itu membatasi entitas milik negara asing dalam membeli atau mengambil alih aset mineral yang dianggap penting.
Bahkan, pada 2020 lalu, pemerintah Kanada pernah memblokir rencana Shandong Gold Mining Co. (juga dari Tiongkok) untuk mengakuisisi TMAC Resources. Alasannya klasik: kekhawatiran keamanan nasional, karena tambang tersebut terletak di wilayah utara Kanada.
Meski demikian, bukan berarti semua pintu tertutup. Masih ada kesepakatan yang lolos, contohnya akuisisi Osino Resources Corp. oleh Shanjin International Gold Co. pada tahun 2024 lalu.
Di balik layar, transaksi besar ini melibatkan banyak pemain keuangan ternama. Moelis & Company LLC jadi penasihat untuk Allied. Sementara di sisi Zijin, Royal Bank of Canada yang memberikan konsultasi. Bank of Nova Scotia juga terlibat, memberi masukan kepada komite khusus Allied.
Nah, kesepakatan senilai triliunan ini masih harus menunggu persetujuan akhir. Mereka butuh restu dari pemegang saham Allied dan otoritas Kanada, plus izin persaingan usaha dan regulasi dari berbagai yurisdiksi, termasuk tentu saja, dari Tiongkok sendiri. Prosesnya masih panjang, tapi langkah pertama sudah diambil.
Artikel Terkait
Cadangan Baru di Selat Malaka: ENRG Temukan 31 Juta Barel Minyak di Riau
Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tenaga Kerja AS Jadi Penopang Utama
Kopra by Mandiri Pacu Transaksi Rp 26.634 Triliun, Dukung Geliat Ekonomi 2026
PNM Gelar Pelatihan Massal untuk Perempuan Pengusaha di Surabaya