Angkanya? Laba bersih tahun berjalan BCA sampai November 2025 mencapai Rp52,66 triliun, tumbuh 4,35% dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp50,47 triliun. Pendorong utamanya adalah pendapatan bunga bersih (NII) yang juga naik 4,10% menjadi Rp73,03 triliun.
Di sisi lain, Jonathan juga optimis dengan prospek 2026. Dia memprediksi pertumbuhan kinerja BBCA tahun depan akan lebih tinggi. Beberapa kunci yang akan diawasi antara lain kemampuan bank menjaga pangsa pasar dana murah (CASA), kontribusi pendapatan fee, dan tentu saja efisiensi biaya operasional.
“BBCA melakukan konsolidasi dengan menjaga pertumbuhan kredit secara prudent pada 2025 serta memperbesar pencadangan untuk antisipasi risiko. Tahun 2026 bila produk domestik bruto meningkat, maka BBCA akan tumbuh lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Dan jangan lupakan soal dividen. Sentimen ini selalu jadi pertimbangan penting bagi investor jangka panjang. BBCa punya track record bagus di sini pembayaran dividennya stabil dan menarik. Dalam tiga tahun terakhir, payout ratio-nya minimal di angka 65%.
“Ekspektasi pasar terhadap pembagian dividen di 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh pemegang saham jangka panjang,” imbuh Jonathan.
Sentimen analis secara keseluruhan pun masih sangat mendukung. Data Bloomberg menunjukkan mayoritas tepatnya 92% memberikan rekomendasi “buy”. Sisanya 8% merekomendasikan “hold”, dan tidak ada satu pun analis yang memberi sinyal “sell”. Rata-rata target harga untuk 12 bulan ke depan berada di level Rp10.800 per saham. Kalau dibandingkan harga sekarang, potensi kenaikannya sekitar 41%. Angka yang cukup menggoda.
Catatan: Keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya berada di tangan investor.
Artikel Terkait
Ultracorp Pacu Akselerasi Bisnis dengan Ultra Voucher di Tahun Krusial 2026
Indonet Gelontorkan Rp283 Miliar untuk Pacu Ekspansi Data Center
ANTAM dan Kawan-kawan Melonjak, Emas Tembus USD5.000
Emas Antam Melonjak Rp 30.000, Pajak Pembelian Dihapus