Saham BCA lagi-lagi jadi buah bibir di pasar modal. Setelah sempat terpuruk ke posisi terendah dalam tiga bulan, emiten berkode BBCA ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Menurut sejumlah analis, tekanan jual yang membebani saham perbankan ini tampaknya mulai kehilangan tenaga, terutama dengan makin dekatnya pengumuman laporan keuangan penuh tahun 2025.
Catatan perdagangan Jumat (23/1/2026) cukup dramatis. Saham sempat terjun bebas ke level Rp7.550 per lembar posisi yang tidak terlihat sejak pertengahan Oktober tahun lalu. Namun, ajaibnya, di menit-menit akhir sesi, harga berhasil menarik diri dan ditutup sedikit lebih kuat di Rp7.650. Volume transaksi hari itu pun tak main-main, mencatatkan lebih dari 2 juta lot dengan nilai tukar mencapai Rp1,55 triliun. Pergerakannya benar-benar hidup.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Jonathan Gunawan dari Trimegah Sekuritas punya pandangan. Menurutnya, pelemahan BBCA ini sejalan dengan kondisi sektor perbankan secara keseluruhan yang lagi lesu.
“Tapi kalau dilihat dari sejarahnya, harga saham BBCA sekarang ini sudah relatif murah. Peluang untuk rebound besar,” ujar Jonathan.
Dia meyakini, potensi turunnya saham ini sudah jauh lebih kecil ketimbang peluang naiknya. Alasannya sederhana: valuasinya sudah diskon, sementara fundamental perusahaan tetap kokoh. “Fundamental perusahaan masih solid,” tegasnya.
Nah, semua mata kini tertuju pada laporan keuangan full year 2025 yang bakal dirilis. Jonathan bilang, kalau hasilnya sesuai atau malah melampaui ekspektasi pasar, itu bisa jadi angin segar untuk mendorong harga naik. Apalagi, kinerjanya hingga November 2025 terbilang moncer.
“Hingga November 2025, BBCA menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang mencatatkan kenaikan laba bersih,” kata dia.
Artikel Terkait
BEI Kunci Saham BAIK Usai Harga Melonjak Tak Wajar
ASLI Sambut Pengendali Baru, Bidik Ekspansi ke Proyek Infrastruktur dan Fasilitas Industri
PGJO Suntik Rp5,1 Miliar ke Anak Usaha untuk Genjot Ekspansi
Emas Tembus USD 5.000, Investor Berlarian ke Safe Haven