Kemandirian ini, tegas Hans, jelas sinyal positif untuk pertumbuhan jangka panjang. Lantas, bagaimana caranya mencapai target 10.000 itu? Hans menyoroti beberapa sektor dan emiten yang diprediksi bakal jadi motor penggerak.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar dan konsumsi masih sangat menarik. Di sisi lain, sektor komoditas juga menunjukkan gelagat kebangkitan yang patut diwaspadai.
Untuk saham big caps, dia merekomendasikan BBCA, ASII, dan TLKM. Di sektor konsumsi, ada CMRY, MYOR, MAPI, ICBP, serta AMRT. Sementara untuk emas, pilihannya adalah ANTM, BRMS, ARCI, dan MDKA. Adapun di sektor batu bara atau pertambangan, dia menyebut ITMG, AADI, PTBA, ADMR, dan ADRO.
Khusus emas dan pertambangan, Hans melihat potensinya masih solid. Dinamika harga komoditas global dinilai akan terus mendorong sektor ini.
"Target tadi ya, kita cukup yakin ya, IHSG Rp10 ribu ya. Kemudian emas ya, ANTAM, BRMS, ARCI, MDKA, emas itu masih cukup bagus, potensi kebangkitan di batu bara, ITMG, AADI, PTBA, ya kemudian terkait mining, ADMR, ADRO, ya itu menurut kita masih menarik,"
Prediksi semacam ini tentu jadi angin segar. Bagi investor domestik, ini adalah undangan untuk terus berpartisipasi menguatkan pasar modal nasional. Apalagi, fundamental ekonomi Indonesia di tengah tantangan global 2026 ini dinilai tetap kokoh. Semua faktor itu seolah berpadu, membuka jalan menuju rekor baru.
Artikel Terkait
Harga CPO Naik Didorong Kenaikan Minyak Mentah dan Wacana B50
Jatis Mobile Siapkan Buyback Saham Senilai Rp35 Miliar untuk Stabilisasi Harga
PT Sinar Terang Mandiri (MINE) Catat Laba Rp200,83 Miliar Didorong Proyek Nikel
BULL Tambah Armada dengan Kapal Tanker LNG Kedua, Siap Operasi 2026