Pasar saham domestik lagi-lagi berakhir di zona merah pada Jumat (23/1/2026). IHSG anjlok 1,17% ke level 8.886, terdorong oleh aksi jual besar-besaran di saham-saham konglomerat yang terkait dengan indeks MSCI. Rupiah yang melemah dan derasnya arus jual asing semakin memperparah sentimen. Ini adalah hari ketiga berturut-turut indeks acuan kita merosot, menjauh dari rekor tertingginya di 9.174 yang baru saja dicapai tiga hari sebelumnya.
Tapi, ada cerita lain yang menarik perhatian. Di tengah pelemahan pasar yang cukup dalam, saham-saham tambang emas justru bersinar. Mereka bergerak melawan arus, seolah punya dunianya sendiri.
PT Merdeka Gold Resources (EMAS) jadi yang paling perkasa, melonjak 5,04% ke Rp6.225. Emiten pelat merah, PT Aneka Tambang (ANTM), tak kalah solid dengan kenaikan 3,32% ke Rp4.360. Beberapa emiten lain juga ikut merangkak naik: MDKA naik 1,54%, HRTA 1,72%, dan PSAB 1,60%. ARCI dan BRMS pun mencatatkan kenaikan, meski lebih tipis.
Lalu, apa penyebabnya? Jawabannya ada di pasar komoditas global. Harga emas dunia pagi itu meledak, menembus level psikologis USD 4.950 per troy ons. Ini rekor baru, sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan terkuat dalam hampir empat tahun terakhir. Sentimen geopolitik yang masih mencekam dan dolar AS yang sedikit melemah jadi angin bagus untuk logam kuning ini.
Di sisi lain, berita dari Amerika Serikat juga cukup ramai diperbincangkan. Presiden Donald Trump mengklaim telah mengamankan akses permanen AS ke Greenland lewat kesepakatan dengan NATO. Namun, klaim ini dibayangi kabut. Denmark langsung bersuara, menegaskan kembali kedaulatannya atas wilayah itu, sementara rincian kesepakatan itu sendiri masih simpang siur.
Artikel Terkait
Agrinas Palma Cetak Laba Rp 1,6 Triliun di Tahun Pertama
Bank Mandiri Pacu Ekonomi Desa Lewat Kucuran Rp74,9 Triliun untuk UMKM
Pertamina Geothermal Rebut Proyek Panas Bumi 77 MW di Sumatera Barat
Tarif Visa dan Layanan Imigrasi untuk Warga Asing Segera Naik