Di tengah hiruk-pikuk acara Jejak Jajanan Nusantara di GBK, Minggu lalu, Menko PM Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin menyempatkan diri berbincang. Topiknya serius: upaya Indonesia membantu Palestina. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto tak henti-hentinya mencari celah untuk memaksimalkan peran Indonesia di panggung perdamaian global, termasuk lewat keanggotaan dalam Board of Peace.
“Jadi begini,” ujar Cak Imin, “BoP ataupun langkah-langkah diplomasi global yang dilakukan presiden adalah langkah-langkah untuk memaksimalkan peran kita.”
Ia lantas mengurai persoalan yang selama ini kerap jadi ganjalan: bantuan untuk Gaza. Rupanya, mengirimkan bantuan itu bukan perkara mudah. Banyak rintangan di lapangan.
“Peran kita itu apa? Ya, kalau bantuan kepada Gaza itu banyak terpotong atau terhambat, harus dicari pintu-pintu untuk mendorong bantuan-bantuan itu bisa tepat sasaran dan bisa masuk,” jelasnya dengan nada yang cukup tegas.
“Tidak hanya mengandalkan bantuan yang diterjunkan dari pesawat, tetapi bisa lebih leluasa untuk masuk ke Gaza.”
Prabowo, sambungnya, aktif membuka jalur diplomasi demi mengatasi kebuntuan ini. Segala cara ditempuh, dari bilateral hingga multilateral.
“Sehingga BOP-kah, bilateral-kah, multilateral, kunjungan Presiden ke berbagai negara, pulang dari New York mampir ke berbagai negara adalah membuka pintu seluas-luasnya untuk bantuan kita masuk ke Gaza dan Palestina pada umumnya,” imbuh Cak Imin.
Angkanya pun ia sebutkan, dan itu cukup mencengangkan. “Karena ada indikasi bantuan yang masuk yang kita bawa itu tidak sampai 30%, tidak sampai 30% yang sampai, yang lain terhambat.”
Namun begitu, diplomasi ini ternyata bukan cuma soal kemanusiaan. Ada tujuan strategis lain di baliknya. Cak Imin menegaskan bahwa seluruh langkah Presiden juga bertujuan memperkuat pondasi ekonomi dalam negeri.
“Yang kedua, semua tujuan yang dilakukan oleh Presiden adalah untuk menjaga kekuatan ekonomi nasional. Jadi kepentingan nasional nomor satu,” katanya.
“Nomor satu adalah kepentingan nasional sehingga industri kita tetap jalan, ekspor kita ke Amerika tetap surplus.”
Jadi, upaya perdamaian dan negosiasi ekonomi berjalan beriringan. Dua sisi dari mata uang yang sama.
Artikel Terkait
Halalbihalal Perantau Sumbagsel di Palembang Jadi Ajang Percepatan Pembangunan Kawasan
PKS Dukung Usulan KPK soal Pembatasan Jabatan Ketua Umum Partai Dua Periode
Kapal Tanker Minyak Dibajak di Lepas Pantai Somalia, Ancaman Pembajakan Maritim Meningkat
Sendang Sreto di Lamongan: Dari Sendang Irigasi Kini Jadi Wisata Desa Andalan yang Dongkrak PAD