Wall Street kembali menunjukkan sinyal hijau pada Kamis lalu. Pasar saham AS ditutup menguat setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman tarif terhadap sekutu Eropa. Langkah itu disambut positif investor, yang juga mencermati sejumlah data ekonomi terbaru.
Indeks Dow Jones berhasil naik 0,63 persen, menambah sekitar 307 poin ke level 49.384,01. Sementara itu, S&P 500 bertambah 37 poin (0,55%) dan Nasdaq melonjak lebih dari 211 poin atau 0,91 persen. Kenaikan ini melanjutkan momentum dari hari sebelumnya, di mana S&P 500 bahkan mencatat kenaikan harian terbesarnya dalam dua bulan terakhir.
Pemicunya? Trump mundur dari rencananya menggunakan tarif sebagai alat tawar untuk membeli Greenland. Rupanya, negosiasi dengan Denmark sudah di ambang kesepakatan.
“Isu geopolitik seperti ini menciptakan fokus tambahan bagi kami dalam mengelola portofolio klien,” kata Gregg Abella, CEO Investment Partners Asset Management.
Ia menekankan, di tengah volatilitas, diversifikasi aset menjadi kunci tidak hanya pada saham tertentu, tapi juga lintas sektor dan kelas aset.
Namun begitu, euforia dua hari berturut-turut ini belum sepenuhnya memulihkan kerugian yang terjadi pada Selasa. Saat ancaman tarif Trump pertama kali mengguncang pasar, ketiga indeks utama sempat terjun bebas. Untuk pekan ini, S&P 500 dan Nasdaq masih terpantau turun 0,4 persen, sementara Dow cenderung stagnan.
Di sisi lain, data ekonomi yang dirilis cukup memberi angin segar. Pengeluaran konsumen AS pada November dan Oktober ternyata meningkat signifikan. Ini sinyal bagus bahwa perekonomian masih bertumbuh kuat di kuartal ketiga. Data klaim pengangguran juga lebih rendah dari perkiraan, dan pertumbuhan ekonomi kuartal III dikonfirmasi mencapai 4,4 persen.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Melonjak Rp90.000 per Gram, Sentuh Rp2,88 Juta
Harga Emas Antam Melonjak Rp 90 Ribu per Gram di Tengah Perubahan Aturan Pajak
Prabowo Soroti Indonesia sebagai Titik Terang Ekonomi Global di Forum Davos
IHSG dan Rupiah Menguat di Tengah Antisipasi Keputusan Bank of Japan