Harga saham ZATA melonjak lagi hari ini. Sentimennya positif banget, terutama setelah pemerintah ngomongin rencana bikin BUMN tekstil. Emiten-emiten sektor tekstil lainnya juga ikut naik, tapi ZATA termasuk yang paling mencolok.
Di sesi pertama perdagangan Kamis (22/1/2026), saham ZATA ditutup di level Rp125. Angkanya naik sekitar 8% dari harga pembukaan. Padahal, sejak Kamis pekan lalu aja, kenaikannya sudah luar biasa: lebih dari 100%! Pergerakannya bikin banyak investor melirik.
Sebenarnya, ZATA ini bergerak di bidang apa sih? Perusahaan dengan nama lengkap PT Bersama Zatta Jaya Tbk ini tercatat di Bursa Efek Indonesia di papan pengembangan. Kategorinya barang konsumen non-primer. Intinya, mereka fokus di perdagangan besar tekstil, pakaian jadi, dan juga punya ritel eceran pakaian sendiri.
Kalau dirunut sejarahnya, perusahaan ini lahir di Bandung tahun 2012. Pendirinya empat orang: Elidawati, Sukaesih, Henda Roshenda, dan Eva Hanura. Mereka punya visi yang cukup jelas.
Tak lama berdiri, lewat sebuah entitas anak, mereka meluncurkan brand fesyen muslim bernama Elzatta. Setahun kemudian, giliran brand Dauky yang diluncurkan untuk menjaring pasar anak muda. Mereka terus berkembang. Di 2014, koleksi pria "Zatta Men" diluncurkan untuk melengkapi katalog.
Ekspansi fisik dimulai tahun 2015 dengan membuka superstore pertama di Tegal. Toko-toko baru terus bertambah, hingga di tahun 2020 mereka sudah punya 64 toko. Perjalanannya terus berlanjut ke kota-kota besar lainnya.
Selain jualan baju jadi, bisnis ZATA juga mencakup perdagangan besar tekstil. Misalnya, bahan kain untuk keperluan rumah tangga atau kain batik. Mereka juga jualan produk turunan tekstil lain, seperti karpet. Jadi, cakupannya lumayan luas.
Hingga akhir 2024, total sudah ada 105 toko Elzatta dan Dauky yang berdiri di 17 provinsi. Separuhnya lebih, tepatnya 52 toko, dimiliki langsung oleh perusahaan. Sisanya dioperasikan oleh mitra.
Artikel Terkait
IHSG Tergelincir dari Level 9.000, Saham-Saham Ini Justru Melonjak Tajam
Industri Tapioka Terkapar: Kapasitas Pabrik Menganggur, Impor Masih Mengalir
Saham DAAZ Melonjak 21%, Siapa Dalang di Balik Raksasa Komoditas Ini?
Kredit Melonjak di Akhir 2025, Sektor Riil Jadi Penggerak Utama