BI Proyeksikan Kredit Tumbuh 8-12% di 2026, Tapi Dana Rp2.439 T Masih Menganggur

- Rabu, 21 Januari 2026 | 23:35 WIB
BI Proyeksikan Kredit Tumbuh 8-12% di 2026, Tapi Dana Rp2.439 T Masih Menganggur

Pertumbuhan kredit perbankan tahun depan diproyeksikan masih cukup kuat. Bank Indonesia memperkirakan angka itu akan berada di rentang 8 hingga 12 persen di tahun 2026. Ini sekaligus jadi sinyal optimisme dari otoritas moneter.

Proyeksi itu muncul setelah melihat capaian tahun ini. Sepanjang 2025, kredit perbankan tercatat tumbuh 9,69 persen year on year. Angka itu masuk dalam kisaran prediksi BI sebelumnya, yaitu 8-11 persen. Jadi, bisa dibilang targetnya tercapai.

Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan rinciannya. Ternyata, kredit investasi yang jadi penyumbang utama, melesat hingga 21,06 persen. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi tumbuh lebih moderat, masing-masing di angka 4,52 persen dan 6,58 persen.

"Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas Pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga,"

Ucap Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Rabu (22/1/2025) lalu.

Namun begitu, tantangan tetap ada. Di sisi permintaan, pelaku usaha dinilai masih perlu didorong untuk lebih agresif berekspansi. Padahal, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan atau undisbursed loan jumlahnya masih sangat besar. Per Desember 2025, angkanya mencapai Rp2.439,2 triliun! Itu setara dengan 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Dana menganggur yang tidak kecil.

Di sisi lain, minat bank untuk menyalurkan kredit sebenarnya terus membaik. Persyaratan pemberian kredit pun semakin dilonggarkan. Hanya saja, keringanan ini belum sepenuhnya menyentuh segmen kredit konsumsi dan UMKM. Alasannya klasik: risiko kredit di kedua segmen itu masih dianggap tinggi oleh perbankan.

Ke depan, BI berjanji tak akan berhenti di sini. Mereka akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Tujuannya jelas, memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit agar lebih merata dan optimal. Langkah konkretnya masih dinanti.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar