Senin lalu (9/3), suasana di Kota Palu tampak sedikit berbeda. Di tengah hiruk-pikuk persiapan buka puasa, ada sebuah kegiatan unik yang menarik perhatian. Pemerintah setempat, bersama Bank Sampah Kabelota Pura dan beberapa kelompok mahasiswa pecinta alam dari Universitas Tadulako, menggelar program bertajuk "sampah tukar takjil".
Gagasannya sederhana tapi cerdas. Warga yang datang dan menyerahkan sampah yang sudah dipilah terutama plastik dan kertas bisa langsung menukarnya dengan takjil untuk berbuka. Antusiasme masyarakat pun terlihat jelas. Menurut sejumlah saksi, antrean mulai ramai sejak sore hari.
“Ini kan win-win solution,” ujar seorang panitia sambil menata kotak takjil.
“Kami bisa dapat sampah yang masih punya nilai ekonomi, masyarakat dapat santapan buka puasa. Semuanya senang.”
Di sisi lain, program ini bukan cuma sekadar bagi-bagi takjil biasa. Ada tujuan jangka panjang yang lebih serius di baliknya. Bulan Ramadhan seringkali diiringi dengan lonjakan volume sampah, terutama dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Tanpa upaya pengelolaan, beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pasti akan bertambah berat. Nah, inilah salah satu cara kreatif untuk meredam masalah itu sejak dari sumbernya.
Jadi, selain menyemarakkan Ramadhan 1447 Hijriah, aksi kolaborasi ini jelas punya dampak nyata. Mereka tak hanya membagikan kebahagiaan berbuka, tapi juga secara perlahan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah. Langkah kecil yang, kalau diteruskan, bisa bikin perubahan besar untuk lingkungan Palu.
Artikel Terkait
Email Internal Pentagon Bocor: AS Pertimbangkan Sanksi bagi Sekutu NATO yang Tolak Dukung Operasi Militer Lawan Iran
BMKG Peringatkan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah pada 24-30 April 2026
Polisi Buru Perempuan di Pangkep yang Diduga Tipu Korban Rp15,5 Juta Lewat Arisan Lelang Fiktif
Di Tengah Krisis Ekonomi dan Perang, Warga Teheran Terbelah Antara Harapan Perdamaian dan Keinginan Perang Berlanjut