Survei terbaru dari Bank Indonesia untuk kuartal IV 2025 menunjukkan angin segar dalam penyaluran kredit. Ternyata, permintaan kredit baru melonjak cukup signifikan. Saldo Bersih Tertimbang (SBT)-nya mencapai 88,92 persen, jauh melampaui angka kuartal sebelumnya yang hanya 82,33 persen. Untuk kuartal I tahun depan, BI masih optimis meski proyeksinya lebih moderat, di angka 55,74 persen.
Kalau dilihat per sektor, kenaikan ini cukup merata. Beberapa sektor bahkan mencatat lonjakan yang impresif. Ambil contoh sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, SBT-nya nyaris menyentuh 88,53 persen. Industri Pengolahan juga tak kalah kuat di posisi 75,92 persen. Di sisi lain, sektor seperti Perantara Keuangan serta Transportasi dan Pergudangan juga menunjukkan performa solid, masing-masing di atas 72 persen.
Nah, yang menarik justru ada di sisi jenis penggunaannya. Peningkatan kredit baru ini didorong kuat oleh Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi, dengan SBT masing-masing 88,64 persen dan 87,32 persen. Artinya, dunia usaha lagi aktif bergerak. Namun begitu, ceritanya berbeda untuk Kredit Konsumsi. Angkanya justru turun jadi 13,39 persen, lebih rendah dari kuartal III.
Apa penyebabnya? Rupanya, penurunan tajam terjadi pada Kredit Kendaraan Bermotor yang SBT-nya negatif, -2,14 persen. Kredit Multiguna dan Tanpa Agunan juga melambat. Meski demikian, ada sedikit cerah dari pertumbuhan Kartu Kredit yang melesat hingga 70,81 persen, sementara KPR/KPA relatif stabil.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, kondisi ini tak lepas dari kebijakan perbankan yang lebih longgar di triwulan IV 2025.
“Kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar antara lain pada aspek biaya persetujuan kredit, jangka waktu kredit, dan suku bunga kredit,” jelas Denny dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/1).
Indeks Lending Standard (ILS) yang negatif sebesar -2,59 mencerminkan kelonggaran itu. Tapi hati-hati, untuk triwulan I 2026 nanti, bank-bank diperkirakan akan lebih berhati-hati. ILS diproyeksikan positif di angka 2,75.
Meski begitu, prospek jangka panjang masih terlihat cerah. Responden survei memperkirakan outstanding kredit hingga akhir 2026 bisa tumbuh lebih tinggi ketimbang realisasi tahun sebelumnya.
“Kondisi tersebut antara lain ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap baik serta risiko dalam penyaluran kredit yang tetap terjaga,” tambah Denny.
Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), pertumbuhan tahun 2026 diperkirakan akan melandai. Proyeksinya sekitar 7,62 persen year on year, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2025 yang mencapai 13,83 persen. Jadi, meski kredit menggeliat, sumber dananya mungkin akan berbeda dinamikanya.
Artikel Terkait
Riset Henan Asset: Potensi Arus Beli Paksa Enam Saham Indonesia pada Awal Juni 2026
IHSG Anjlok 3,38 Persen ke 7.129, Seluruh Sektor Saham Merah
Saham ICBP Anjlok 47% dari Puncak, Sentimen Timur Tengah dan Kenaikan Biaya Bahan Baku Jadi Tekanan
Hua Yan dan Andalan Sakti Inti Batal Negosiasi Akuisisi 51,18% Saham Ansa Land