Hari Kamis (22/1/2026) kemarin, saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) benar-benar menyita perhatian. Di sesi kedua perdagangan, harganya melesat ke kisaran Rp4.440 per lembar. Kenaikannya cukup tajam, sekitar 21% dari harga pembukaan. Tak heran, DAAZ masuk dalam jajaran top gainers harian dengan nilai transaksi yang fantastis: mendekati Rp104 miliar. Kalau kita lihat lagi, dalam sebulan terakhir kinerjanya memang luar biasa. Saham ini sudah naik lebih dari dua kali lipat, tepatnya 109%.
Lalu, perusahaan apa sebenarnya di balik kode DAAZ ini? Emiten ini tercatat di papan utama BEI dan bergerak di sektor barang baku. Inti usahanya adalah perdagangan besar untuk logam dan bijih logam. Tapi jangan salah, mereka juga berperan sebagai perusahaan holding dengan portofolio yang cukup beragam.
Menelusuri latar belakangnya, Daaz Bara Lestari berdiri sejak 2009. Awalnya fokus pada perdagangan komoditas. Perjalanan bisnisnya mulai berubah pada 2018, ketika mereka mengambil alih PT Indo Lautan Energi, sebuah perusahaan yang bergerak di perdagangan BBM. Langkah ekspansi terus berlanjut. Setahun kemudian, mereka merambah ke bisnis perkapalan dengan mengakuisisi PT Aserra Logistik, yang mengoperasikan jasa kapal tunda dan tongkang.
Menurut informasi dari laman resmi perusahaan, babak baru dibuka pada 2021. Kali ini, DAAZ memutuskan untuk masuk ke sektor pertambangan. Mereka mengakuisisi PT Bahana Selaras Alam, yang bergerak di pertambangan batu bara. Tak berhenti di situ, di tahun 2022 mereka mendirikan PT Bara Makmur Dwitama khusus untuk perdagangan batu bara.
Dengan berbagai akuisisi dan pendirian anak usaha itu, wujud perseroan sekarang jadi cukup besar. Saat ini, mereka mengendalikan 21 perusahaan yang tersebar di tiga bidang utama: perdagangan, perkapalan, dan jasa pertambangan. Rinciannya, enam perusahaan bergerak di perdagangan komoditas, empat di perkapalan, dua di jasa pertambangan, dan sisanya di perdagangan komoditas lain.
Lalu, komoditas apa saja yang mereka garap? Tiga komoditas andalannya adalah batu bara, bijih nikel, dan bahan bakar minyak. Batu baranya disuplai untuk kebutuhan pembangkit listrik. Sementara bijih nikel dipasok ke sejumlah smelter di Sulawesi. Untuk BBM, jenis yang diperdagangkan adalah high speed diesel, yang pelanggannya berasal dari kalangan industri seperti pertambangan, smelter, dan transportasi.
Artikel Terkait
GOLF Kukuhkan Ekspansi di Bali, Lanjutkan Proyek Hunian Eksklusif di New Kuta Golf
Saham Lippo Karawaci Melesat 30%, Transaksi Tembus Rp661 Miliar
IHSG Tergelincir dari Level 9.000, Saham-Saham Ini Justru Melonjak Tajam
Industri Tapioka Terkapar: Kapasitas Pabrik Menganggur, Impor Masih Mengalir