Jenazah Pertama Korban Jatuhnya Pesawat di Bulusaraung Akhirnya Teridentifikasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 23:36 WIB
Jenazah Pertama Korban Jatuhnya Pesawat di Bulusaraung Akhirnya Teridentifikasi

Setelah pencarian yang melelahkan di medan terjal Gunung Bulusaraung, akhirnya ada titik terang. Identitas pria korban pertama jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Pangkep berhasil diketahui. Dia adalah Deden Maulana.

Dari data manifest penumpang, terkonfirmasi Deden adalah seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pria berpangkat Penata Muda tingkat I ini sehari-hari bertugas sebagai Pengelola Barang Milik Negara.

Malam itu, sekitar pukul sepuluh lewat lima menit WITA, suasana hening di lokasi tiba-tiba berubah. Sebuah peti jenazah akhirnya dikeluarkan dari ruang post mortem. Di bagian luarnya, tertera nama Deden Maulana dan label post mortem PM.62.B.02. Proses penyerahan kepada keluarga pun segera dilakukan.

Peti itu diterima oleh seorang perempuan bernama Vera, yang disebut-sebut adalah istri almarhum.

Vera sama sekali tak bisa menahan tangis. Tangannya terlihat gemetar saat menerima berkas-berkas pemeriksaan dari Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, AKBP Elvis J.

Usai penyerahan, prosesi berlangsung singkat. Peti jenazah langsung dibawa ke dalam ambulans untuk kemudian diberangkatkan ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Baik tim DVI maupun keluarga memilih untuk tak banyak berkomentar soal detail identifikasi ini.

Kesulitan di Balik Proses Identifikasi

Sebelumnya, tim DVI sempat menggelar jumpa pers. Mereka mengaku mengalami kendala serius dalam mengidentifikasi korban pria yang pertama ditemukan ini.

Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Muh Haris, menjelaskan kondisinya kepada awak media.

"Kondisi (mayat), sudah bengkak," ujarnya.

Kondisi itu, menurutnya, memerlukan pemeriksaan yang jauh lebih intensif. Mereka butuh waktu untuk proses seperti pengambilan DNA. Hal ini sangat berbeda dengan korban kedua, Florencia, yang proses identifikasinya lebih mudah.

"Mungkin itulah yang menjadi kendala pada saat identifikasi setiap jenazah. Mudah-mudahan untuk jenazah yang kedua, yang sudah kami terima (bisa teridentifikasi)," harap Haris.

Jenazah Deden sendiri ditemukan di sebuah jurang dalam, Minggu siang lalu. Lokasinya sekitar 200 meter dari puncak. Dia adalah korban pertama yang berhasil dijangkau tim SAR.

Evakuasi saat itu langsung dicoba, tapi sia-sia. Medannya terlalu berat, cuaca pun tak bersahabat. Butuh waktu tiga hari sampai akhirnya jenazahnya bisa dibawa turun ke RS Bhayangkara Makassar. Evakuasi terakhir menggunakan helikopter ke Lanud Hasanuddin, sebelum dilanjutkan dengan ambulans.

Kenangan dari Seorang Tetangga

Di rumahnya yang sepi di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kenangan tentang Deden masih tersisa. Seorang tetangga, Suratno, membagikan kesannya.

Menurut Suratno, Deden tinggal di rumah itu bersama istri dan seorang anaknya. Pria itu dikenal sebagai sosok yang pendiam.

“Orangnya pendiem sih, enggak banyak ini… jarang nongkrong di luar. Kalau dia pulang ya paling sekali-sekali nongkrong sama saya di depan rumah, ngerokok, masuk lagi, gitu doang,” kenang Suratno.

Ia juga teringat momen terakhir bertemu Deden. Sang korban sempat berpamitan sebelum berangkat tugas.

“Hari Jumat apa kemarin gitu. Saya lagi duduk di sini juga, dipamit sama saya. ‘Pak No, berangkat dulu ya.’ ‘Oh iya hati-hati,’ saya gitu,” tuturnya, mengingat percakapan singkat yang kini terasa sangat berat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar