TERNATE Laga melawan Malut United berakhir 3-3. Tapi bagi PSM Makassar, satu poin yang direbut di Stadion Gelora Kie Raha, Sabtu (7/3) lalu, rasanya hampir seperti kemenangan. Bagaimana tidak? Pasukan Ramang sempat terkapar tertinggal 1-3. Mereka bangkit, menunjukkan semangat bertarung yang sempat terasa hilang. Itu yang paling berharga.
Drama dimulai dengan gol bunuh diri lawan yang mengantar PSM unggul. Tapi kemudian keadaan berbalik. Malut United membalas tiga kali, membuat skor menjadi 1-3 di babak kedua. Posisi PSM di ambang kekalahan. Namun, mereka tak menyerah. Dua gol balasan menyelamatkan situasi, mengunci skor imbang.
Bagi asisten pelatih Ahmad Amiruddin, momen kebangkitan itu punya arti lebih dari sekadar angka.
“Saya tidak bisa berkata-kata lagi kepada pemain. Terima kasih atas kerja kerasnya. Inilah spirit anak Makassar,”
Ucapannya terdengar klise? Mungkin. Tapi dalam konteks tekanan berat yang menghimpit PSM belakangan ini rentetan hasil buruk, posisi klasemen yang mencemaskan imbang dramatis ini ibarat oksigen. Ia membuktikan karakter tim belum benar-benar punah.
Amiruddin meyakini, soliditas yang perlahan kembali terbentuk jadi kuncinya. Hubungan antara pemain, pelatih, dan manajemen, katanya, adalah fondasi untuk bertahan. Tak lupa, dukungan suporter.
“Mungkin suporter pesimis. Tapi di balik pesimis itu saya yakin mereka selalu memberi doa terbaik untuk PSM,”
Di balik semua analisis teknis, sebenarnya ada satu motivasi mentah yang mendorong mereka: ketakutan akan degradasi. Amiruddin sendiri tak sungkan mengakuinya.
“Kami tak mau ke Liga 2,”
Tekadnya singkat dan tegas. Bagi klub sekaliber PSM, dengan segudang sejarah gemilang, ancaman turun kasta adalah mimpi buruk yang harus dihindari mati-matian. Tekanan itu sudah menggayuti mereka jauh sebelum pertandingan di Ternate.
Amiruddin mengakui, kepercayaan diri pemain sempat anjlok akibat hasil buruk beruntun. Tapi, ia masih melihat secercah harapan. Beberapa pemain kunci seperti Victor Luiz dan Savio Roberto sudah kembali. Penjaga gawang Hilman Syah juga memberi energi baru. Meski begitu, kondisi skuad belum ideal. Gledson Martins, Salman Alfarid, dan Ananda Raehan masih dalam masa pemulihan.
Namun, bagi Amiruddin, masalah utamanya bukan cuma soal siapa yang tampil. Ada hal lain yang lebih mengusik.
Di lapangan latihan, PSM kerap tampil meyakinkan. Intensitas bagus, skema permainan berjalan mulus. Tapi begitu tiba di pertandingan resmi, semuanya seperti menguap. Performa tak kunjung maksimal. Kontras inilah yang masih jadi teka-teki bagi tim pelatih.
Meski begitu, asisten pelatih itu memilih untuk tetap optimis. Kerja keras di setiap latihan adalah bukti bahwa api semangat belum padam.
Memang, satu hasil imbang di Ternate belum serta-merta menyelesaikan semua masalah PSM. Musim ini masih panjang dan penuh ketidakpastian. Tapi setidaknya, laga itu mengingatkan semua orang: Pasukan Ramang masih punya nyali untuk melawan, bangkit dari keterpurukan.
Dan menurut Amiruddin, nyali itulah yang akan menentukan nasib mereka. Apakah PSM bisa lolos dari masa sulit ini, atau justru terperosok lebih dalam. Pertarungan sesungguhnya masih berlangsung.
Artikel Terkait
Atlet Muda Tenis Meja Indonesia Sabet Emas di Kejuaraan Pemuda ASEAN
PSIM Hadapi Persija di Gianyar dengan Beban 11 Laga Tanpa Kemenangan
Pengadilan Spanyol Paksa Jaringan IPTV Ilegal Bayar Kompensasi Rp868 Miliar
Internal Real Madrid Berselisih Soal Masa Depan Camavinga