Kondisi itu, menurutnya, memerlukan pemeriksaan yang jauh lebih intensif. Mereka butuh waktu untuk proses seperti pengambilan DNA. Hal ini sangat berbeda dengan korban kedua, Florencia, yang proses identifikasinya lebih mudah.
"Mungkin itulah yang menjadi kendala pada saat identifikasi setiap jenazah. Mudah-mudahan untuk jenazah yang kedua, yang sudah kami terima (bisa teridentifikasi)," harap Haris.
Jenazah Deden sendiri ditemukan di sebuah jurang dalam, Minggu siang lalu. Lokasinya sekitar 200 meter dari puncak. Dia adalah korban pertama yang berhasil dijangkau tim SAR.
Evakuasi saat itu langsung dicoba, tapi sia-sia. Medannya terlalu berat, cuaca pun tak bersahabat. Butuh waktu tiga hari sampai akhirnya jenazahnya bisa dibawa turun ke RS Bhayangkara Makassar. Evakuasi terakhir menggunakan helikopter ke Lanud Hasanuddin, sebelum dilanjutkan dengan ambulans.
Kenangan dari Seorang Tetangga
Di rumahnya yang sepi di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kenangan tentang Deden masih tersisa. Seorang tetangga, Suratno, membagikan kesannya.
Menurut Suratno, Deden tinggal di rumah itu bersama istri dan seorang anaknya. Pria itu dikenal sebagai sosok yang pendiam.
“Orangnya pendiem sih, enggak banyak ini… jarang nongkrong di luar. Kalau dia pulang ya paling sekali-sekali nongkrong sama saya di depan rumah, ngerokok, masuk lagi, gitu doang,” kenang Suratno.
Ia juga teringat momen terakhir bertemu Deden. Sang korban sempat berpamitan sebelum berangkat tugas.
“Hari Jumat apa kemarin gitu. Saya lagi duduk di sini juga, dipamit sama saya. ‘Pak No, berangkat dulu ya.’ ‘Oh iya hati-hati,’ saya gitu,” tuturnya, mengingat percakapan singkat yang kini terasa sangat berat.
Artikel Terkait
Serangan Drone Guncang Pabrik Suriah, Gencatan Senjata Langsung Diuji
Sjafrie Sjamsoeddin Tegaskan Kesiapan Indonesia Hadapi Perang Berlarut
Kotak Kayu Mirip Pocong di Kulon Progo Ternyata Cuma Berisi Tanah
Pemerintah Cabut Izin Perkebunan Rp14,5 Triliun di Atas Tanah Milik TNI