Suasana di Masjid Syajaratun Thayyibah DPP Partai Golkar, Jumat malam lalu, cukup hangat. Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, sedang memberikan sambutan dalam acara peringatan Nuzulul Quran. Di tengah uraiannya yang serius, tiba-tiba ia menyelipkan sebuah kelakar yang langsung mengundang tawa hadirin.
"Insyaallah, bagi orang yang selalu diberkahi, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun," ujar Bahlil.
Lalu, dengan senyum khasnya, dia melanjutkan, "Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah."
Kalimat itu tentu saja bukan sekadar lelucon biasa. Di balik candaannya, Bahlil sebenarnya sedang membangun narasi optimisme menuju pemilu 2026. Dia merasa sinyal-sinyal politik sudah mulai terlihat, dan Golkar berharap bisa meraih lebih banyak kursi di parlemen nanti.
Namun begitu, pidatonya tak melulu soal politik praktis. Bahlil kemudian mengajak hadirin merenungkan prinsip keadilan sosial dalam ekonomi yang tertuang dalam Al-Qur'an. Dia mengutip Surat Al-Hasyr ayat 7, yang intinya melarang kekayaan hanya beredar di kalangan orang kaya saja.
"Prinsip ini punya pesan moral yang kuat," terang Bahlil. "Kekayaan dan sumber daya jangan cuma menumpuk pada segelintir orang, tapi harus dikelola dan dibagi secara adil agar seluruh masyarakat merasakan manfaatnya."
Menurutnya, larangan monopoli ekonomi itu bukan cuma ada di konstitusi atau Pancasila. "Ternyata di Al-Qur'an juga diperintahkan hal yang sama. Kekayaan tidak boleh dimonopoli oleh sekelompok kecil orang."
Bahlil pun menegaskan bahwa nilai ini selaras betul dengan Pasal 33 UUD '45. Baginya, klausul konstitusi itu bukan sekadar aturan negara, melainkan intisari dari ajaran kitab suci. "Nilai Al-Qur'an dan konstitusi kita sama-sama menekankan pentingnya keadilan ekonomi. Pembangunan nasional harus menghasilkan pertumbuhan, tapi juga kesejahteraan yang benar-benar dirasakan rakyat banyak. Ini juga sejalan dengan tujuan partai politik," pungkasnya.
Di sisi lain, kelakar Bahlil soal Lailatul Qadar itu tak luput dari perhatian. Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhammad Cholil Nafis, akhirnya buka suara. Lewat akun X-nya, Kiai Cholil menyampaikan kekhawatirannya.
“Sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa keyakinan dan agama itu jangan dibikin candaan,” tulisnya, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, candaan semacam itu pasti memantik beragam tanggapan dan kontroversi. Entah karena isi candaannya sendiri, atau sekadar karena ada yang tidak suka dengan si pembawa canda.
“Meski ini tidak termasuk penodaan agama, tapi sepertinya kok tak enak didengar,” tambah Kiai Cholil, menanggapi pertanyaan seorang netizen yang memintanya merespons pernyataan Bahlil.
Komentar singkat itu cukup menggambarkan ketidaknyamanan sebagian kalangan. Di satu sisi ada dunia politik dengan logika dan humornya sendiri, di sisi lain ada ranah agama yang bagi banyak orang adalah wilayah yang patut dijaga kesakralannya. Dua dunia itu, sekali lagi, bersinggungan.
Artikel Terkait
Mentan Amran Sidak ke Gudang Bulog Karawang, Pastikan Stok Beras Capai 5 Juta Ton
PSM Makassar Kalahkan Persik Kediri 3-1, Tambah Tiga Poin Penting di Kandang
PSM Makassar Kalahkan Persik Kediri 3-1, Jauh dari Zona Degradasi
Mahfud MD: Generasi Muda Harus Berani Bela Kebenaran demi Masa Depan Bangsa