Rasa penasaran publik akhirnya terjawab. Komika Panji Pragiwaksono buka suara soal absennya nama Anies Baswedan dalam spesial stand-up comedy terbarunya, Mens Rea, yang tayang di Netflix. Lewat kanal YouTube pribadinya, Sabtu lalu, Panji dengan tegas membantah alasan itu terkait dukungan politik atau rasa takut. Intinya, ini soal prinsip.
Menurutnya, narasi di panggung Mens Rea memang sengaja dirancang untuk mengkritik mereka yang sedang memegang jabatan. Titik.
"Kenapa gue ngebahas Pak Prabowo, Pak Gibran, Pak Bahlil? Karena mereka sedang menjabat. Mereka adalah pejabat publik yang bekerja dengan duit pajak rakyat," ujar Panji.
Jadi, tokoh-tokoh seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Mahfud MD, hingga Ahok tak masuk dalam materi utamanya sederhana saja: mereka saat ini tidak memegang tampuk pemerintahan. Panji merasa punya tanggung jawab moral untuk mengawasi para pejabat yang menggunakan fasilitas dan uang rakyat.
"Intinya kita bayar pajak semua. Selama mereka masih dalam jabatan, kita berhak untuk mengkritik. Yang lain (Anies dkk) ngapain dibahas? Enggak ngejabat, mereka enggak ngambil duit pajak kita saat ini," tegasnya lagi.
Di sisi lain, Panji tak terima dituding "main aman" atau tak berani menyentuh Anies. Ia malah menantang siapa pun untuk menelusuri rekam jejak digitalnya di YouTube dari 2017 sampai 2023. Klaimnya, dialah salah satu kreator yang paling konsisten mengkritik Anies semasa jadi Gubernur DKI.
Ia menyebut contoh, mulai dari video ulasan yang memberi skor rendah untuk kinerja Anies, hingga materi komedi pedas seputar isu DP 0 persen dan proyek Formula E.
"Faktanya adalah tidak ada satu pun YouTuber di Indonesia yang lebih banyak bikin video mengkritik Anies Baswedan daripada Panji Pragiwaksono. Bahkan tidak ada komika yang lebih sering menjadikan Anies sebagai punchline daripada gue," tambahnya dengan nada percaya diri.
Meski berpatokan pada pejabat aktif, rupanya ada beberapa pengecualian. Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, adalah salah satunya. Baginya, posisi presiden itu spesial; sejarah dan kebijakannya akan selalu relevan untuk dibicarakan, kapan pun.
Lalu ada nama Dharma Pongrekun. Untuk yang satu ini, alasannya lebih sederhana dan berbau komedi murni.
"Beliau terlalu lucu untuk tidak dibahas di acara komedi," pungkas Panji.
Dengan penjelasan panjang lebar ini, harapannya jelas: agar penonton paham bahwa pemilihan materi di Mens Rea berangkat dari fungsi kontrol sosial, bukan karena ada keberpihakan politik tertentu di belakangnya.
Artikel Terkait
21 Wisatawan Terjebak Banjir Bandang di Sungai Usa Bone Berhasil Dievakuasi Selamat
Kondisi Nadiem Makarim Membaik Usai Operasi, Tetap Siap Baca Pleidoi Pekan Depan
Pemerintah Siapkan Rp4,97 Triliun untuk Subsidi Beras SPHP 2026, Batas Pembelian Konsumen Diperlonggar
Wali Kota Makassar Resmikan Sekretariat Baru IKA FH Unhas, Aktifkan Kembali Organisasi yang Sempat Vakum