Pada 20 Januari 2026, rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS. Posisinya ada di Rp 16.945 per dolar. Secara point to point, ini artinya depresiasi sekitar 1,53 persen dibandingkan penutupan akhir tahun lalu.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pun angkat bicara. Menurutnya, pelemahan ini bukan cuma karena faktor luar negeri. Kondisi dalam negeri juga punya andil.
“Kebijakan nilai tukar Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global,” tegas Perry dalam konferensi pers RDG, Kamis (22/1).
Ia menyebut ada kebutuhan valas yang meningkat di sektor perbankan. Di sisi lain, pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung turut mempengaruhi sentimen pasar.
Gelombang Tekanan dari Luar dan Dalam
Faktor global memang masih jadi pemicu utama. Perry menjabarkan, ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Tensinya makin terasa mulai dari gejolak geopolitik, kebijakan tarif AS, hingga imbal hasil US Treasury yang menarik. Semua ini mendongkrak dolar dan mengalihkan arus modal.
Namun begitu, faktor domestik tak bisa diabaikan.
Artikel Terkait
Emas Tergelincir dari Rekor Tertinggi Usai Sikap Trump Melunak
Gangguan Ladang Kazakhstan dan Serangan Drone Picu Kenaikan Harga Minyak
Pemerintah Siapkan Tarif Baru Cukai Rokok untuk Jemput Produsen Ilegal
Trump di Davos: Janji Bagi Hasil Minyak Venezuela Usai Serangan AS