Rupiah Tersungkur ke Rp 16.945, BI Siap Gelar Intervensi Besar-besaran

- Kamis, 22 Januari 2026 | 07:12 WIB
Rupiah Tersungkur ke Rp 16.945, BI Siap Gelar Intervensi Besar-besaran

Pada 20 Januari 2026, rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS. Posisinya ada di Rp 16.945 per dolar. Secara point to point, ini artinya depresiasi sekitar 1,53 persen dibandingkan penutupan akhir tahun lalu.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pun angkat bicara. Menurutnya, pelemahan ini bukan cuma karena faktor luar negeri. Kondisi dalam negeri juga punya andil.

“Kebijakan nilai tukar Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global,” tegas Perry dalam konferensi pers RDG, Kamis (22/1).

Ia menyebut ada kebutuhan valas yang meningkat di sektor perbankan. Di sisi lain, pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung turut mempengaruhi sentimen pasar.

Gelombang Tekanan dari Luar dan Dalam

Faktor global memang masih jadi pemicu utama. Perry menjabarkan, ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Tensinya makin terasa mulai dari gejolak geopolitik, kebijakan tarif AS, hingga imbal hasil US Treasury yang menarik. Semua ini mendongkrak dolar dan mengalihkan arus modal.

Namun begitu, faktor domestik tak bisa diabaikan.

“Juga ada faktor-faktor domestik tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur,” lanjut Perry.

SIAP TURUN TANGAN BESAR-BESARAN

Di tengah tekanan itu, Perry menegaskan komitmen BI. Bank sentral siap turun tangan secara agresif kalau diperlukan. Tujuannya jelas: meredam gejolak dan volatilitas yang berlebihan.

Semua instrumen kebijakan sudah disiagakan. BI, kata Perry, tidak akan ragu masuk ke pasar dengan skala besar.

“Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,” paparnya.

Perlu diingat, tekanan nilai tukar ini terjadi secara luas, bukan cuma di Indonesia. Untuk menghadapinya, BI mengandalkan cadangan devisa yang dianggap kuat dan memadai. Cadangan itulah yang akan jadi bantalan saat pasar bergejolak.

“Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang kami tingkatkan itu juga didukung oleh kecukupan cadangan devisa. Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tutup Perry.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar