“Juga ada faktor-faktor domestik tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur,” lanjut Perry.
SIAP TURUN TANGAN BESAR-BESARAN
Di tengah tekanan itu, Perry menegaskan komitmen BI. Bank sentral siap turun tangan secara agresif kalau diperlukan. Tujuannya jelas: meredam gejolak dan volatilitas yang berlebihan.
Semua instrumen kebijakan sudah disiagakan. BI, kata Perry, tidak akan ragu masuk ke pasar dengan skala besar.
“Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,” paparnya.
Perlu diingat, tekanan nilai tukar ini terjadi secara luas, bukan cuma di Indonesia. Untuk menghadapinya, BI mengandalkan cadangan devisa yang dianggap kuat dan memadai. Cadangan itulah yang akan jadi bantalan saat pasar bergejolak.
“Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang kami tingkatkan itu juga didukung oleh kecukupan cadangan devisa. Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tutup Perry.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Menguat, Saham Asuransi Digital Bersama Melonjak 34%
Harga Emas Antam Anjlok, Galeri24 Justru Melonjak
Emas Pegadaian Melonjak Drastis, Tembus Rp2,9 Juta per Gram
UNTR Siapkan Rp2 Triliun untuk Tahan Laju Saham yang Terperosok