Perry Warjiyo: Ekonomi Indonesia Harus Tahan Banting di Tengah Badai Global

- Rabu, 21 Januari 2026 | 20:06 WIB
Perry Warjiyo: Ekonomi Indonesia Harus Tahan Banting di Tengah Badai Global

Tekanan Global dan Ketahanan Ekonomi Domestik

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tak menampik bahwa tekanan dari luar negeri turut membayangi laju perekonomian kita. Menurutnya, ada beberapa faktor yang berperan. Dampak lanjutan dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, misalnya. Belum lagi kerentanan rantai pasok global yang belum pulih benar, ditambah eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia yang makin panas.

Perry menyampaikan hal itu dalam konferensi pers, Rabu (21/1).

"Perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat," ujarnya.

Ia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan sedikit lebih rendah, sekitar 3,2 persen. Angka ini turun tipis dari perkiraan capaian 2025 yang di level 3,3 persen.

Yang menarik, perlambatan ini terjadi meskipun prospek ekonomi AS justru terlihat lebih cerah. Investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), serta stimulus fiskal berupa pemotongan pajak masih menjadi penopang utama di sana. Namun begitu, dinamika global ternyata tidak seragam. Negara-negara besar seperti Jepang, China, dan India justru diperkirakan ikut melambat pada 2026. Penyebabnya, melemahnya permintaan domestik dan ekspor. Padahal, investasi AI di negara-negara tersebut juga sebenarnya meningkat.

Dari sisi pasar keuangan, tekanan masih terasa kuat. Ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) semakin sempit. Yield surat utang AS (US Treasury) pun tetap tinggi, didorong oleh defisit fiskal Amerika yang membengkak. Kondisi ini membuat dolar AS menguat terhadap mata uang negara maju dan, konsekuensinya, menahan aliran modal asing yang biasanya masuk ke negara berkembang seperti Indonesia.

"Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat," tutur Perry, "terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik."

Semua situasi ini, tegasnya, menuntut kewaspadaan ekstra. Respons kebijakan domestik harus diperkuat agar ekonomi Indonesia tetap tahan banting dan bisa menangkal guncangan dari luar, sambil tetap mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

Di Tengah Badai, Ekonomi Indonesia Tetap Bertahan

Lalu, bagaimana dengan kondisi dalam negeri? Di tengah tantangan global yang pelik, kinerja ekonomi Indonesia dinilai Perry tetap solid. Ia menekankan, pertumbuhan nasional perlu terus dikejar agar sesuai dengan kapasitas yang ada. Pada triwulan IV 2025, misalnya, pertumbuhan diprediksi lebih tinggi. Ini didorong oleh membaiknya permintaan domestik seiring pulihnya kepercayaan pelaku usaha dan adanya tambahan stimulus fiskal dari pemerintah.

Beberapa sektor utama menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, plus sektor informasi dan komunikasi mencatatkan angka positif. Secara wilayah, kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra) jadi yang pertumbuhannya paling tinggi, disusul Jawa dan Kalimantan. Pemicunya tak lain adalah peningkatan permintaan dari dalam negeri.

Untuk keseluruhan tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi berada di kisaran 4,7 hingga 5,5 persen. Nah, yang lebih optimis, proyeksi untuk 2026 justru naik ke level 4,9 sampai 5,7 persen. Angka ini sejalan dengan berlanjutnya berbagai kebijakan pemerintah dan dampak positif dari langkah-langkah Bank Indonesia.


Halaman:

Komentar