Menjelang Ramadan dan Lebaran, kebutuhan akan uang tunai terutama pecahan kecil biasanya melonjak. Nah, Bank Indonesia sudah mengantisipasinya. Mereka memastikan stok rupiah tersedia cukup, baik dari segi jumlah, waktu distribusi, hingga kualitas uang yang beredar. Intinya, BI ingin aktivitas ekonomi dan sosial berjalan lancar tanpa kendala.
Deputi Gubernur BI, Ricky Perdana Gozali, menegaskan hal itu dalam sebuah konferensi pers Rabu lalu.
“Bank Indonesia terus memastikan bahwa penyediaan rupiah kepada masyarakat dalam jumlah yang cukup, waktunya tepat, dan pecahannya sesuai dengan kualitas terjaga. Ini juga kami lakukan untuk periode Ramadan dan Idul Fitri nanti,” ujar Ricky.
Jadi, stok uang tunai sudah disiapkan dalam jumlah memadai. Tujuannya jelas: untuk menopang peningkatan transaksi, baik untuk belanja kebutuhan, tradisi bagi-bagi, atau sekadar menukar uang baru buat lebaran.
Di sisi lain, BI juga kembali menggelar program tahunannya, yaitu layanan penukaran uang khusus. Program bertajuk "Serambi" atau Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri ini memang fokus memudahkan masyarakat dapat pecahan kecil.
“Penukaran ini juga kita lakukan hingga ke daerah 3T terluar, terdepan, dan terpencil. Tahun ini, kami perkirakan layanan penukaran akan meningkat, seiring kondisi ekonomi dan sosial yang cukup baik,” tutur Ricky lagi.
Untuk mewujudkannya, BI menggandeng 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia plus kerja sama dengan perbankan. Layanannya pun ditingkatkan, baik dari sisi jumlah uang yang disediakan maupun kemudahan aksesnya.
Semua langkah ini punya satu tujuan sederhana.
“Ini semua kita lakukan agar masyarakat dapat melaksanakan ibadah Ramadan dengan baik dan merayakan Idul Fitri dengan indah,” kata dia.
Lalu, bagaimana kondisi moneter yang mendasari kebijakan ini? Ternyata, data terakhir menunjukkan uang primer (M0) pada Desember 2025 tumbuh 11,4% secara tahunan. Angka ini melonjak dibanding bulan sebelumnya yang 6,5%. Bahkan, M0 adjusted melesat lebih tinggi hingga 16,8%. Ini mencerminkan ekspansi likuiditas yang cukup kuat.
Kenaikan itu dipicu oleh meningkatnya uang kartal dan giro bank di BI, sejalan dengan menguatnya aktivitas ekonomi serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter di penghujung tahun. Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2025 juga tumbuh 8,3%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Ke depan, BI bakal terus memantau dan mengelola pertumbuhan uang beredar dengan hati-hati. Sinergi dengan pemerintah akan dijaga, agar stabilitas moneter tetap terkendali sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Lanjutkan Koreksi, Analis Soroti Empat Saham Potensial
Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025