Sejak Senin malam kemarin, jagat media sosial diramaikan oleh sebuah video yang menyentuh. Isinya, protes seorang guru honorer yang membandingkan gajinya dengan upah sopir program Makan Bergizi Gratis. Video itu, diunggah di TikTok, sudah ditonton ratusan ribu kali. Banyak yang merespons, banyak pula yang ikut merenung.
Dalam rekaman itu, seorang wanita berjilbab dan baju ungu tampak menyampaikan unek-uneknya. Suaranya lantang, tapi sesekali terdengar getir. Intinya sederhana: ia merasa miris.
“Izin saya luapkan saja,” katanya. “Ternyata gaji driver MBG itu jauh lebih layak daripada teman-teman yang mencerdaskan anak bangsa. Miris hati saya.”
Ungkapan itu langsung menyentuh banyak orang. Bukan cuma soal angka, tapi tentang nilai yang dirasa tak seimbang. Di satu sisi, ada yang mengantarkan makanan. Di sisi lain, ada yang membentuk masa depan anak bangsa. Perbandingannya yang tajam itulah yang bikin banyak orang tersentak.
Wanita itu lalu mengingatkan sebuah realita yang sering terabaikan. Tidak semua guru honorer punya sandaran ekonomi lain. Gaji dari mengajar itu bisa jadi satu-satunya tumpuan hidup.
“Kalau mungkin teman-teman yang punya suami mapan atau kemandirian sendiri, ya Alhamdulillah,” ujarnya. Lalu ia bertanya, “Tapi bagaimana, apa kabar saudara-saudara saya yang hanya berpatok dari situ?”
Namun begitu, di tengah kegelisahan itu, ada kebanggaan yang tak bisa dibeli. Meski gaji kecil, meski kadang dicibir, ia dan rekan-rekannya tetap bangga dengan seragam yang dikenakan. Bangga atas tugas mulia yang dijalani. “Kami bangga, meskipun di luar, banyak yang mencibir kita, ya,” sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
Lalu, bagaimana sebenarnya angka-angkanya? Soal gaji guru honorer memang kompleks. Besarannya sangat bergantung pada kondisi sekolah, yayasan, atau anggaran daerah. Ada perbedaan nominal berdasarkan jenjang ajar juga. Tapi faktanya di lapangan, masih banyak yang menerima gaji di bawah Upah Minimum Kabupaten. Sungguh ironis.
Untuk tahun 2026 ini, insentif dari pemerintah untuk guru honorer dianggarkan Rp 400 ribu per bulan. Bandingkan dengan kabar yang beredar soal gaji sopir MBG. Konon, mereka bisa dapat Rp 100 ribu per hari. Jika dihitung per bulan, angkanya bisa mencapai Rp 2 hingga 3 juta. Jelas, selisihnya sangat mencolok.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Badan Gizi Nasional sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait isu yang viral ini. Protes yang diluapkan di video itu mungkin hanya secuil suara dari banyak keluhan serupa yang masih terpendam. Ia mengingatkan kita semua: menghargai pengabdian, seringkali bukan perkara mudah.
Artikel Terkait
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi
Purbaya Bantah Isu APBN Hanya Rp120 Triliun, Tegaskan Kas Negara Masih Aman