“Transaksi tersebut menarik. Ada indikasi broker RB itu terafiliasi dengan Grup Salim,” ujar Yeoh, Senin lalu.
Memang, posisi Grup Salim di BUMI cukup kuat. Mereka, bersama Grup Bakrie, sama-sama mengendalikan perusahaan tambang ini setelah melakukan akuisisi besar pada periode 2022-2023 silam.
Di sisi lain, BUMI sendiri sedang gencar melakukan transformasi. Laporan UOB Kay Hian per 19 November 2025 mencatat, perusahaan ini terus mendiversifikasi bisnisnya. Mereka mendorong produksi emas melalui BRMS, meningkatkan volume overburden removal lewat PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan mengakuisisi aset emas-tembaga Wolfram yang berbiaya rendah.
Tak cuma itu, ekspansi juga dilakukan ke bisnis bauksit-alumina melalui Laman Mining. Upaya ini jelas bertujuan membangun portofolio usaha yang lebih beragam, tak hanya mengandalkan batu bara semata.
Bagaimana reaksi pasar? Saham BUMI hari ini ditutup melemah 28 poin, atau turun 6,76%, ke level Rp386. Pelemahan ini mungkin jadi cermin dari respon investor atas transaksi besar yang masih menyisakan banyak tanda tanya.
Artikel Terkait
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual