Di sisi lain, potensi kenaikan harga tetap terbuka lebar. Apalagi jika pengendalian pasokan benar-benar diperketat. Kita sudah lihat pola serupa terjadi pada CPO dan timah sebelumnya. Tapi hati-hati, menurut Bahana, kenaikan saham saat ini lebih banyak digerakkan oleh posisi spekulatif para investor. Bukan karena pasokan fisik yang benar-benar ketat.
Buktinya? Lihat saja data di bursa. Posisi net long investor di London Metal Exchange (LME) melonjak. Tapi anehnya, persediaan nikel di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) justru masih numpuk di level tertinggi. Situasinya memang agak paradoks.
Lantas, bagaimana jika pemangkasan kuota benar-benar terjadi? Katakanlah hingga sekitar 100 juta wet metric ton bijih. Bahana memperkirakan produksi logam nikel bisa turun 0,7-1,0 juta wmt. Jumlah itu, menurut mereka, cukup untuk menyerap kelebihan pasokan nikel kelas-1 yang diproyeksikan mencapai 260 ribu ton pada tahun 2026.
Meski prospeknya terlihat cerah, risiko tetap mengintai. Bahana menyoroti beberapa hal: pelemahan harga nikel yang tak terduga, ketidakpastian kebijakan yang selalu jadi momok, dan yang tak kalah penting, keterlambatan eksekusi proyek di lapangan. Tiga hal ini bisa menjadi batu sandungan.
Seperti biasa, semua analisis dan rekomendasi ini akhirnya kembali ke tangan investor. Keputusan untuk membeli atau menjual, tentu saja, sepenuhnya ada di pundak mereka.
Artikel Terkait
Toba Pulp Lestari Terancam Mati Suri Usai Izin Hutan Dicabut
Harga Emas Antam Melonjak Tajam, Sentuh Rp 2,7 Juta per Gram
IHSG Lesu di Level 9.094, Sektor Industri Anjlok 5,29%
IHSG Terperosok, Rupiah Lunglai di Awal Perdagangan