Soal omzet, Destry enggan berbagi detail. Yang pasti, ia mengakui pendapatannya menurun sejak pandemi melanda.
Tak jauh dari toko Destry, ada Toko Songket Pergaulan. Kaler, sang pemilik yang berusia 59 tahun, bercerita bahwa tokonya khusus menjual kain dari Sumatera Utara. Asal kain-kain itu pun beragam.
"Kebanyakan dari Tarutung, ada juga yang dari Balige," kata Kaler.
Menurutnya, harga ulos di tokonya mulai Rp100 ribu hingga yang termahal Rp3 juta. Sementara tumtuman dijual sekitar Rp900 ribu sampai Rp1 juta. Kain-kain ini banyak dibeli untuk keperluan pernikahan.
"Misalnya, keluarga perempuan memberi ulos ke mempelai laki-laki. Biasanya mereka pilih yang bagus, bisa sampai Rp3 juta. Tapi kami menyesuaikan saja dengan kemampuan pembeli. Ada yang cari yang sedang-sedang," jelasnya.
Kaler kini mengelola dua toko: satu di Blok 6 dan satunya lagi di sini, di Blok 1 dan 2. Ia merasakan betul dampak pandemi. Pembeli sepi. Untuk mengatasinya, ia mulai berjualan live di TikTok.
"Sekarang memang agak menurun. Persaingan dengan online shop juga ketat," keluhnya.
"Kalau punya toko fisik kan ada biaya tambahan seperti pajak. Sedangkan jualan online seringkali bebas dari itu. Ya, harus bisa beradaptasi," tutup Kaler sambil mengatur kembali kain di etalasenya.
Artikel Terkait
BEI Soroti Rencana Rusun Subsidi di Meikarta, Lippo Cikarang Klaim Tak Ada Halangan Hukum
Cimory Bentuk Anak Usaha Baru, Siapkan Strategi Ekspansi Jangka Panjang
Badan Gizi Buka 32 Ribu Formasi, Deputi Gubernur BI Mundur dan Bakal Ditukar
Park Young Mock Resmi Pimpin Dewan Komisaris Lippo General Insurance