Ia menegaskan, pariwisata yang hebat harus tumbuh seiring komitmen kuat terhadap pelestarian alam dan budaya. Bagi InJourney, keberlanjutan bukan pilihan, melainkan fondasi utama.
"Melalui visi 'Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities', InJourney membangun ekosistem yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan," jelasnya.
Sementara itu, Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital, menekankan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab adalah fondasi transformasi. "Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya," tegas Herdy.
Program yang baik, lanjutnya, harus diiringi kesiapan sumber daya manusia agar dampaknya bisa berjangka panjang.
Dua Pilar Utama
Kerangka kerja keberlanjutan InJourney bertumpu pada dua pilar. Pertama, pilar lingkungan (environment), yang fokus pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, strategi iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati.
Kedua, pilar sosial-ekonomi (socio-economic). Di sini, prioritasnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program kesehatan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, dan penguatan kemitraan dengan UMKM lokal.
Sebagai bagian konkret dari pilar lingkungan, InJourney berkomitmen menurunkan emisi sebesar 4.000 tonCO₂e. Langkah awal ini merupakan dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission pemerintah.
Mereka menggelar green initiative program di seluruh grup. Inisiatifnya beragam, mulai pemanfaatan energi surya di sembilan bandara utama yang menghasilkan 10.760 MWh per tahun dan berpotensi mengurangi emisi setara 272 ribu pohon hingga mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik di berbagai destinasi.
Dalam hal pengelolaan sumber daya, pendekatan ekonomi sirkular diterapkan. Capaiannya termasuk pengelolaan 7.000 m³ limbah padat dan pemanfaatan 1.728.304 m³ air daur ulang. Mereka juga menjalankan program penanaman 40 ribu pohon mangrove di berbagai wilayah operasi.
Di Nusa Dua, Bali, sebuah terobosan penting diwujudkan. Fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) berhasil dioperasikan, menghasilkan 331.382 m³ air bersih dari laut. Bahkan, entitas di bawah ITDC ini tercatat sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapat izin resmi KKP untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi.
“Melalui rangkaian inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan destinasi,” tutup Maya Watono.
Artikel Terkait
IHSG Tembus Rekor Baru, Tapi Tak Bertahan Lama
Analis BNI Sekuritas Soroti Level Krusial 9.100 untuk Lanjutkan Rally IHSG
Harga Emas Antam Tembus Rp 2,7 Juta per Gram, Pajak Beli Turun
Manufaktur Indonesia Tutup 2025 dengan Ekspansi, Optimisme Menggelora ke 2026