Di Sudut Jalan, Ekonomi Kreatif Berdetak dengan Hukum Gotong Royong

- Jumat, 16 Januari 2026 | 09:06 WIB
Di Sudut Jalan, Ekonomi Kreatif Berdetak dengan Hukum Gotong Royong

Pagi masih sepi ketika Ida merapikan meja kecilnya di sudut jalan. Tangannya lincah, meski matanya masih sayu. Semua makanan itu dia racik sendiri di kontrakan sempit dimasak larut malam, saat anaknya sudah terlelap pulas.

Kalau ditanya, dia tak akan pernah bilang dirinya bagian dari "ekonomi kreatif". Jawabannya selalu sederhana.

"Saya cuma menyambung hidup dengan tangan sendiri," ujarnya lirih.

Suasana di dapur Ida tentu sunyi. Tapi semangat yang beda sudah berkobar sejak semalam. Elham dan kawan-kawannya para pemuda kampung yang biasa dipanggil 'akamsi' sibuk pasang umbul-umbul dan hiasan di sepanjang jalan. Wajahnya berkeringat. "Biar bagus, Mas. Kalau difoto biar viral," katanya sambil tersenyum.

Nah, di seberang jalan, Surya baru saja menyalakan kompornya. Kopi bubuk ditakar pakai feeling, air panas dituang pelan-pelan. Lapaknya cuma vespa tua yang dimodifikasi, plus banner yang warnanya sudah memudar diterpa matahari.

Dia tahu, pembeli belum tentu ramai. Tapi setiap Sabtu pagi, dia tetap datang. Bukan cuma buat cari untung, sih. Ini lebih soal menjaga kewarasan diri bahwa karyanya yang sederhana ini masih punya tempat di tengah dunia yang bising.

Di sisi lain, Jaya tampak sibuk mondar-mandir. Dia mengatur agar lapak-lapak tidak menjorok ke badan jalan, sekaligus mengarahkan pengunjung yang mulai berdatangan.

Tak jauh dari situ, Joko berteriak sambil mengangkat kursi.

"Kang, aku pinjem kursimu dulu ya! Pelangganku gak ada tempat duduk nih!"

"Ambil aja, Kang! Nanti dikembalikan!" sahut seorang pedagang lain dari ujung jalan.


Halaman:

Komentar