Di Sudut Jalan, Ekonomi Kreatif Berdetak dengan Hukum Gotong Royong

- Jumat, 16 Januari 2026 | 09:06 WIB
Di Sudut Jalan, Ekonomi Kreatif Berdetak dengan Hukum Gotong Royong

Di atas aspal dan trotoar inilah denyut nadi ekonomi kreatif yang sesungguhnya berdetak. Bukan di ruang seminar ber-AC, apalagi di baliho-baliho megah dengan slogan mentereng.

Semuanya dimulai dari hal-hal remeh: saling menyapa, saling beli, dan saling topang.

Coba lihat polanya.

Seorang pedagang menitipkan dagangannya ke lapak sebelah, tanpa kontrak atau perjanjian tertulis. Sebuah unggahan di media sosial dari teman bisa mendatangkan pembeli ke warung yang lagi sepi. Atau, warga yang memilih beli gorengan tetangga, meski harganya sedikit lebih mahal ketimbang di minimarket.

Mereka tidak merasa sedang "membangun ekosistem". Itu bahasa orang kantoran. Mereka cuma berusaha bertahan dan melakukannya bersama-sama.

Kesadaran kolektif itu muncul perlahan. Orang mulai paham, ekonomi kreatif bukan soal siapa yang paling viral atau paling cepat jadi 'unicorn'. Ini soal rasa senasib. Keyakinan bahwa kalau satu lapak tutup, jalanan akan terasa lebih gelap bagi yang lain.

Di sinilah segalanya jadi manusiawi. Ada lelah yang dibagi. Ada kecemasan yang diredam bersama. Dan ada senyum tipis saat dagangan laku, meski uangnya cuma cukup buat makan hari itu.

Pemerintah bisa saja menyebutnya program. Media mungkin menamainya industri. Tapi bagi mereka yang bertarung di jalanan dan gang sempit, ekonomi kreatif punya makna yang lebih nyata: soal apakah dapur mereka masih bisa ngebul besok pagi.

Kesadaran itu tumbuh bukan karena perintah atau instruksi. Melainkan dari hukum jalanan yang paling dasar, yang tak pernah ditulis tapi dipahami semua orang: di sini, tak ada yang bisa selamat sendirian.


Halaman:

Komentar