Menurut sejumlah analis, ketahanan harga tembaga ini ditopang beberapa hal. Gangguan operasional di sejumlah tambang, kekhawatiran defisit pasokan tahun ini, plus aliran logam ke AS yang memperketat stok di tempat lain.
Faktor geopolitik juga berperan. Pernyataan politik dari AS baru-baru ini memicu ketidakpastian. Alhasil, sebagian investor memilih lari ke komoditas dengan fundamental kuat seperti tembaga dan timah. Mereka mencari aset yang dianggap aman.
Namun begitu, penguatan dolar AS tadi tetap bikin laju kenaikan agak terhambat. Soalnya, komoditas yang harganya pakai dolar jadi lebih mahal buat pembeli dari negara lain.
Sementara itu, timah malah lebih spektakuler lagi. Harganya di bursa Shanghai dan London sama-sama pecah rekor. Di Shanghai, kontraknya melonjak sampai 8 persen dan nyentuh batas atas perdagangan. Di London, kenaikannya lebih dari 5 persen. Aksi beli spekulatif di tengah situasi geopolitik yang memanas diduga jadi pemicunya.
Logam lain juga ikut merasakan imbasnya. Di bursa Shanghai, aluminium, nikel, dan seng sama-sama catat kenaikan. Begitu pula di London, pergerakannya positif meski ada yang tipis seperti timbal.
Jadi, suasana pasar memang sedang panas-panasnya. Tapi ingat, keputusan beli atau jual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor. Semua data tadi cuma gambaran, bukan saran. Selalu lakukan analisis mendalam sebelum memutuskan sesuatu.
Artikel Terkait
IRSX Siapkan Rights Issue Rp3,72 Triliun, Investor Diberi Bonus Waran
Riyal Iran Terjun Bebas, Warga Berhadapan dengan Harga Pangan yang Meledak
INDS Melesat 25%, APLN Tergelincir: Dua Wajah Pasar di Bawah Pantauan Khusus BEI
Antam Bantah Video Viral Ledakan Tambang Pongkor: Itu Hoaks