JAKARTA – Angkanya sungguh fantastis. Proyek Giant Sea Wall (GSW) yang membentang di sepanjang Pantura Jawa disebut-sebut butuh dana hingga 100 miliar dolar AS. Itu bukan angka main-main. Untuk membiayai mega proyek ini, pemerintah berencana menggabungkan anggaran negara dengan menarik minat investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), rencana besar ini sedang masuk tahap penyusunan master plan. Tujuannya jelas: melindungi puluhan juta penduduk dan aset bernilai ratusan miliar dolar dari ancaman yang kian nyata, seperti banjir rob dan amblasnya permukaan tanah.
Presiden Prabowo Subianto sendiri dikabarkan mendorong percepatan pembangunan. Lalu, seperti apa wujud proyek ini sebenarnya?
Pembiayaan: APBN dan Harapan akan Investor
Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, mengakui besarnya angka yang beredar. “Secara keseluruhan sudah ada hitungannya sekitar 80 sampai 100 miliar dolar AS,” ujarnya.
Namun begitu, dia menegaskan bahwa pihaknya masih mendalami skema pembiayaan secara komprehensif. “Agar tidak terlalu memberatkan pemerintah,” tambah Didit. Sampai saat ini, belum ada komitmen investasi yang mengalir, baik dari dalam maupun luar negeri. Meski begitu, pemetaan wilayah prioritas untuk pembangunan awal sudah dilakukan.
Bukan Cuma untuk Sekarang
Alasan dibangunnya tanggul raksasa ini jauh melampaui kepentingan jangka pendek. Proyek ini dirancang untuk bertahan hingga 300 tahun ke depan. Makanya, setiap tahap perencanaan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Rencananya, GSW akan membentang sepanjang 535 kilometer, melintasi lima provinsi: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Cakupannya luas, meliputi lima kota dan 25 kabupaten.
Di Jakarta, misalnya, konsepnya akan dibagi dua. Akan ada tanggul di sisi timur dan barat, dihubungkan oleh sebuah jembatan. Rencananya juga akan dibangun waduk retensi yang nantinya bisa jadi sumber air baku bagi ibu kota.
BOPPJ, yang diawasi oleh Kemenko Infrastruktur, juga menggandeng pakar dari universitas dan lingkungan untuk mengkaji akar masalah abrasi di pesisir. Kolaborasi ini dianggap krusial.
Master Plan yang Masih Dikaji
Saat ini, fokusnya adalah menyelesaikan master plan. Kajian bersama para ahli sedang digodok untuk kemudian dituangkan dalam naskah akademik. Naskah inilah yang akan jadi landasan eksekusi proyek nantinya.
Tak cuma mengandalkan ahli lokal, pengetahuan dari luar negeri juga dilibatkan. Sebab, kematangan kajian akademik diyakini bakal menentukan sukses tidaknya proyek kolosal ini.
“Bukan hanya 17 sampai 20 juta jiwa penduduk yang harus kami lindungi,” tegas Didit. “Tetapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar.”
Jawaban untuk Masalah Pesisir
Di sisi lain, tekanan untuk segera bertindak sangat besar. Arahan presiden jelas: segera tanggulangi penurunan tanah dan banjir rob. GSW diharapkan menjadi solusi multifungsi.
Didit membeberkan, tanggul ini dirancang untuk mengatasi sederet masalah sekaligus: dari banjir rob, degradasi lingkungan, penurunan muka tanah, hingga banjir biasa yang diperparah karena minimnya daerah resapan.
Inspirasinya datang dari negara-negara yang sudah berpengalaman. “Contohnya Belanda,” kata Didit. “Yang sudah lebih dari 135 tahun membangun dam dan hidup di bawah permukaan laut sekitar 5 hingga 11 meter.”
Pelajaran dari mereka akan diadopsi, tentu dengan penyesuaian kondisi lokal. Pelaksanaannya nanti akan melibatkan para ahli, baik dalam maupun luar negeri, untuk memastikan hasil yang maksimal dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
PTPP Rampungkan Struktur Utama Gedung RS Jantung Internasional Harapan Kita
IHSG Ditutup Melemah Tipis 0,03%, Saham DEFI dan KRYA Melonjak di Atas 34%
Petrosea Lepas 99,995% Saham KMS ke Singaraja Putra Senilai Rp1,73 Triliun
UNTR Setujui Dividen Final Rp1.096 per Saham, Laba 2025 Turun