Kalau bicara soal gambir, Indonesia punya posisi yang sangat dominan. Faktanya, lebih dari 80 persen pasokan global komoditas ini berasal dari negeri kita. Angka itu bukan main-main, dan tentu saja membawa dampak ekonomi yang nyata.
Menurut Sam Herodian, Staf Khusus Menteri Pertanian, nilai ekspor daun gambir bagi masyarakat diperkirakan berkisar Rp 54 miliar setiap tahunnya. Namun, di balik angka itu ada cerita yang agak mengganjal.
"Kemudian ada yang menarik lagi," ujar Sam dalam konferensi pers Jakarta Food Security Summit di Gedung Kadin, Jakarta, Selasa (13/1).
"Ini gambir ternyata kita di atas 80 persen produksi dalam negeri itu dari Indonesia, sayangnya hampir 100 persen diekspor ke India. Padahal nilai tambahnya luar biasa."
Data yang ia paparkan menunjukkan produksi nasional gambir di tahun 2022 mencapai 18.061 ton. Nilai ekspornya sendiri menyentuh angka USD 36,6 juta, atau jika dirupiahkan kira-kira Rp 608 miliar.
Sentra utamanya ada di Sumatera Barat. Provinsi ini menyumbang 64 persen produksi gambir dunia, atau sekitar 14.000 ton per tahun. Secara nilai, kontribusinya setara dengan Rp 486 miliar.
Lompatan Nilai yang Fantastis
Di sinilah persoalannya. Sam mendorong agar komoditas ini segera dihilirisasi. Saat ini, daun gambir segar hanya dihargai sekitar Rp 3.000 per kilogram. Cukup murah, bukan?
Artikel Terkait
Stok Beras Pemerintah Tembus 3,36 Juta Ton, Bapanas: Tak Perlu Impor
Pipa Bawah Laut Balikpapan Hidup, Pasokan Energi Indonesia Timur Diperkuat
Januari 2026, Pemerintah Gelar Lelang Sukuk Rp11 Triliun untuk Perdalam Pasar Syariah
MNC Insurance Dukung Panthers di Liga Softball Komunitas Senayan