Operasi Kilat AS: Akhir Dramatis Satu Dekade Kekuasaan Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 22:25 WIB
Operasi Kilat AS: Akhir Dramatis Satu Dekade Kekuasaan Maduro

Selama lebih dari sepuluh tahun, Nicolas Maduro yang kini berusia 63 tahun, berhasil mempertahankan genggamannya yang kokoh atas Venezuela. Kekuasaannya tampak tak tergoyahkan. Namun, semua itu berakhir dalam sekejap pada suatu Sabtu, tepatnya 3 Januari 2026. Pasukan Amerika Serikat bergerak, menculiknya bersama sang istri, Ibu Negara Cilia Flores, dan membawa mereka keluar dari negeri itu. Kini, keduanya secara resmi akan menghadapi meja hijau pengadilan AS, dengan tuduhan serius terkait narkoba dan senjata.

Lalu, siapa sebenarnya pria di balik peristiwa dramatis ini?

Dari El Valle ke Pusat Kekuasaan

Kisahnya berawal dari lingkungan kelas pekerja di kawasan El Valle, Caracas, tempat ia lahir pada 23 November 1962. Ayahnya, Nicolas Maduro Garcia, adalah seorang aktivis serikat buruh yang vokal. Sementara ibunya, Teresa de Jesus Moros, mengurus rumah tangga dan ketiga putri mereka: Maria Teresa, Josefina, dan Anita. Pengaruh politik sang ayah sangat membentuk cara pandang Maduro kecil.

Dia pernah bercerita bahwa kakek-neneknya punya darah Yahudi Sephardic, sebelum akhirnya memeluk Katolik setelah tiba di Venezuela. Masa remajanya diwarnai oleh kegemaran pada musik rock Barat John Lennon adalah salah satu idolanya. Di bangku sekolah menengah di Liceo Jose Avalos, bakat kepemimpinannya mulai terlihat. Dia aktif dalam politik siswa dan disebut-sebut pernah menjadi presiden serikat pelajar, meski tak ada dokumen resmi yang membuktikan kelulusannya dari sana.

Jalan Panjang Menuju Puncak

Karier politik Maduro berakar dari dunia pergerakan buruh. Di awal usia dua puluhan, dia dikabarkan bergabung dengan Liga Sosialis Venezuela, sebuah partai beraliran Marxis-Leninis. Bahkan, ada cerita unik tentang dirinya: sebuah kabel diplomatik Kedutaan AS di Caracas tahun 2006 menyebutkan, Maduro konon menolak tawaran kontrak baseball dari pemandu bakat liga utama AS. Entah fakta atau sekadar cerita, yang jelas jalan hidupnya tak ke arah sana.

Pada 1986, di usia 24 tahun, dia justru dikirim ke Kuba. Tujuannya: mengikuti pelatihan politik selama setahun di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella. Sekembalinya ke Venezuela, Maduro memilih kerja nyata. Dia menjadi sopir bus di metro Caracas dan pada 1991 mendirikan serta memimpin SITRAMECA, serikat pekerja transportasi tersebut. Dari sinilah dia perlahan merangkak naik, membangun jaringan dan pengaruh melalui politik serikat.

Namun, titik balik terbesarnya adalah pertemuannya dengan Hugo Chavez. Karisma sang letnan kolonel yang memberontak terhadap sistem 'Puntofijismo' yang korup itu, benar-benar memikatnya. Maduro pun bergabung dengan gerakan Chavez. Perjuangannya bahkan berlanjut saat Chavez dipenjara usai kudeta gagal 1992. Di sinilah pula dia bertemu dengan Cilia Flores, yang kala itu memimpin tim hukum yang berhasil membebaskan Chavez pada 1994.

Setelah Chavez bebas dan kemudian memenangkan pemilu 1998, Maduro pun ikut masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Dia terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante Nasional. Kedekatannya dengan Chavez makin erat, hingga akhirnya dia dipercaya menjabat menteri luar negeri, lalu wakil presiden di tengah kondisi kesehatan Chavez yang kian memburuk pada 2012.

Memegang Kendali di Tengah Badai

Desember 2012 menjadi momen penting. Chavez yang sakit parah, dalam sebuah pidato televisi, menunjuk Maduro sebagai penerusnya. Setelah Chavez wafat, Maduro memenangkan pemilu April 2013 dengan selisih tipis. Sejak hari pertama, gayanya keras. Dia mengusir diplomat AS, menyebut mereka "musuh sejarah" yang diduga meracuni Chavez. Oposisi dalam negeri dicapnya sebagai 'fasis'.

Dia mewarisi mesin politik yang sudah dibangun rapi oleh Chavez: kendali atas militer, Mahkamah Agung, dan media negara. Tapi, ada satu hal yang tak bisa diwarisi: karisma. Tanpa karisma mentornya, dia harus menghadapi kenyataan pahit: ekonomi yang runtuh dan oposisi yang semakin lantang, termasuk dari sosok seperti Maria Corina Machado pemenang Nobel Perdamaian 2025. Gelombang demonstrasi pun meluas. Tanggapannya? Tindakan keras. Setidaknya 43 nyawa melayang dalam aksi penindasan itu.

Tekanan makin menjadi. Pada 2017, untuk menetralisir parlemen yang dikuasai oposisi, dia membentuk majelis konstituante baru yang pro-pemerintah. Protes dan penindasan berulang, korban jiwa bertambah. Sementara itu, ekonomi benar-benar hancur. Hampir 30 juta penduduk Venezuela kesulitan mendapatkan barang pokok. Produksi minyak, andalan negara, merosot drastis.

Pemilu 2018 dan 2024 diwarnai kontroversi. Maduro dinyatakan menang, tetapi banyak negara, termasuk AS, menolak mengakuinya. Pemimpin oposisi dijebloskan ke penjara atau dipaksa mengungsi. Demonstrasi massa kembali pecah, dan sekali lagi, dijawab dengan kekuatan.

Keputusan Trump dan Akhir yang Dramatis

Di sisi lain, di Washington, keputusan besar sedang matang. Setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat untuk periode kedua pada Januari tahun lalu, tekanan terhadap Caracas meningkat signifikan. Pemerintah Trump tak main-main: memberlakukan tarif 25 persen, menggandakan hadiah untuk penangkapan Maduro, dan menyasar keluarga dekatnya dengan sanksi.

Sejak September, operasi militer AS mulai intensif. Kapal-kapal di perairan dekat Venezuela diserang, dengan tuduhan terlibat "narco-terorisme". Semua itu adalah prekuel dari aksi Sabtu lalu. Operasi yang cepat dan rapi itu akhirnya mengakhiri satu dekade lebih kekuasaan Maduro. Dia dan istrinya sekarang berada di tangan Amerika, menunggu proses hukum yang akan menentukan nasib mereka.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar