Gambir Indonesia Kuasai 80% Pasar Dunia, Tapi Untung Besar Dinikmati India

- Selasa, 13 Januari 2026 | 16:36 WIB
Gambir Indonesia Kuasai 80% Pasar Dunia, Tapi Untung Besar Dinikmati India

Tapi lihatlah lonjakannya saat diolah. Getah gambir harganya bisa melambung hingga Rp 30.000 per kg. Belum lagi jika diolah menjadi tanin dengan kadar minimal 70 persen, nilainya bisa mencapai Rp 2 juta per kilogram. Potensi ekonominya pun membengkak jadi Rp 36 triliun per tahun.

Lebih tinggi lagi, produk katekin dengan kemurnian di atas 90 persen dihargai sekitar Rp 2,5 juta per kg. Nilai ekonominya bahkan berpotensi menyentuh Rp 45 triliun per tahun.

Puncaknya ada di produk farmasi. Active Pharmaceutical Ingredient (API) yang dihasilkan dari gambir harganya sungguh fantastis: Rp 250 juta per kilogram. Dengan rendemen yang kecil, antara 0,05 hingga 0,4 persen dari daun, nilai maksimal per kg daun gambir bisa melonjak ke angka Rp 96 juta. Potensi nilai ekonominya bagi masyarakat? Mencapai Rp 435 triliun per tahun.

Secara garis besar, hilirisasi gambir berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hingga 406 kali lipat. Dari yang semula sekitar Rp 1,27 triliun, bisa meledak menjadi Rp 516,59 triliun.

"Ini gambir bisa jadi obat, ini bagus ini," katanya dengan semangat.

"Nah yang jelas produk turunannya luar biasa, belum kita garap. Dan itu sekarang pasarnya Jepang, China, cuma mereka ambilnya dari India. Bahan bakunya ya dari kita."

Menurut Sam, kondisi inilah yang menjadi persoalan serius. Indonesia hanya bertindak sebagai pemasok bahan baku mentah. Sementara negara lain, khususnya India, yang menikmati keuntungan besar dari proses pengolahan lanjutan.

"Nah ini yang jadi problem," ujarnya. "Padahal nilai tambahnya luar biasa sekali. Ini yang coba kita garap. Sementara ini ekspornya cuma seperti ini, rasanya pahit, tapi sebenarnya bisa untuk macam-macam."


Halaman:

Komentar