Habib Rizieq Desak Satgas Bencana Berkantor di Daerah Terdampak

- Selasa, 13 Januari 2026 | 22:25 WIB
Habib Rizieq Desak Satgas Bencana Berkantor di Daerah Terdampak
Pendapat Habib Rizieq Soal Penanganan Bencana

Aceh – Di tengah upaya pemulihan pascabencana, suara Imam Besar Habib Rizieq Syihab menyerukan aksi yang lebih konkret. Ia menekankan, yang paling mendesak sekarang bukanlah perdebatan klasifikasi, melainkan pembentukan satuan tugas penanggulangan bencana yang benar-benar bekerja dalam skala nasional. Tanpa itu, koordinasi dan kecepatan penanganan bakal terhambat.

Pernyataan itu disampaikannya dalam ceramah di Masjid Al Hijrah, Kota Padang, Senin lalu (9/1/2026).

“Jangan hanya berdebat soal ini bencana nasional atau bukan,” tegasnya.

“Yang paling penting satgas penanggulangan bencana harus segera dibentuk dan bekerja dengan skala nasional.”

Menurutnya, gagasan satgas nasional punya tujuan yang jelas: agar ada perwakilan pemerintah pusat yang benar-benar turun ke lapangan. Mereka tak cuma datang sesekali, tapi berkantor di daerah terdampak. Dengan begitu, keputusan yang diambil bisa berdasarkan kondisi riil yang dilihat sendiri, bukan sekadar laporan.

Di sisi lain, Habib Rizieq juga mendorong pemerintah agar lebih terbuka. Pintu untuk bantuan internasional, katanya, perlu dibuka lebar-lebar jika ingin pemulihan berjalan lebih cepat.

Nah, terkait hal ini, ia mengapresiasi perubahan sikap yang belakangan terlihat. Pemerintah sudah membentuk Satgas Nasional Penanggulangan Bencana dan mulai mengoperasikannya. Pimpinan satgas bahkan telah melakukan pertemuan di Sumatera Barat dan rencananya akan berkantor di Aceh.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada perubahan yang baik dan pemerintah lebih terbuka terhadap bantuan dari luar negeri,” ujarnya.

Namun begitu, ada catatan penting. Habib Rizieq punya imbauan khusus bagi masyarakat internasional yang ingin membantu. Ia menyarankan agar bantuan disalurkan melalui organisasi kemasyarakatan Islam atau lembaga kemanusiaan terpercaya yang sudah ada di daerah.

Langkah ini, di mata dia, punya dua keuntungan. Pertama, bisa memotong birokrasi keimigrasian dan kepabeanan yang kerap berbelit. Kedua, dan ini yang utama, memastikan bantuan itu benar-benar sampai ke tangan orang-orang yang paling membutuhkan di pelosok terdampak.

Pada akhirnya, pesannya sederhana: tindakan nyata dan koordinasi yang solid jauh lebih berharga daripada sekadar label.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar