Senin lalu (12/1/2026), suasana di BRILiaN Club cukup ramai. BRI secara resmi meluncurkan Surat Berharga Komersial atau SBK senilai Rp 500 miliar. Langkah ini bukan sekadar urusan pendanaan, tapi lebih sebagai penegasan posisi mereka di peta keuangan Indonesia. Mereka ingin dikenal sebagai pemain utama, sekaligus bagian dari strategi pengelolaan likuiditas jangka pendek yang berkelanjutan. Penerbitan ini juga sejalan dengan upaya Bank Indonesia untuk mendalami pasar keuangan nasional.
Acara itu sendiri dihadiri oleh sederet nama penting. Mulai dari Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, hingga jajaran pimpinan BRI seperti Direktur Utama Hery Gunardi. Tak ketinggalan, sejumlah mitra strategis dari dunia manajemen investasi turut hadir, misalnya Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, dan Manulife.
Nah, soal kualitas, SBK ini dapat peringkat IdA dari Pefindo. Itu setara dengan AAA untuk utang jangka panjang. Peringkat ini jelas jadi sinyal kuat tentang keandalan BRI dalam memenuhi kewajibannya.
Yang menarik, BRI bekerjasama dengan BRI Danareksa Sekuritas sebagai arranger. Dan ini menjadikan mereka bank pertama di tanah air yang menerbitkan SBK, sebuah instrumen yang kini diakui berdasarkan aturan baru BI.
Ditawarkan dalam empat pilihan tenor, mulai dari satu hingga dua belas bulan, instrumen ini punya tingkat diskonto yang bervariasi antara 4,5% hingga 4,95%. Tujuannya bukan cuma untuk dana segar jangka pendek. Lebih dari itu, SBK BRI dirancang untuk memperkuat ekosistem pasar uang agar lebih transparan dan kompetitif.
Artikel Terkait
Telkom Pacu Valuasi, Lepas 30% Saham InfraNexia untuk Cari Singtel Baru
Telkom Gelar Operasi Besar, 60 Anak Perusahaan Bakal Dirombak
Misterius, Djoni Kembali Beraksi: Kuasai 5,09% Saham Multi Garam Utama
53 UMKM Jakarta Barat Bersiap Serbu Ritel Modern Lewat Program Level-Up