Sebenarnya, tekanan terhadap SMRU sudah terasa sebelumnya. Kinerja operasional mereka terhambat lantaran alat-alat berat milik anak usahanya, PT Ricobana Abadi (RBA), nganggur begitu saja. Ada sejumlah alat berat dengan kapasitas 60-100 ton yang mangkrak, tidak terpakai.
Ini bukan kali pertama RBA kehilangan kontrak. Sebelumnya, mereka juga harus melepas kontrak dari Berau Coal Energy untuk mengelola penambangan di Sembarata Mine Operation. Padahal, lokasi itu bisa memproduksi hingga 5 juta ton batu bara per tahun. Rugi besar.
Dengan situasi seperti ini, masa depan SMRU sepenuhnya bergantung pada kemampuan mereka mendapatkan kontrak baru. Tidak ada pilihan lain.
Di sisi lain, nasib saham SMRU di bursa juga suram. Sahamnya masih disuspensi BEI di harga Rp50 per lembar. Ancaman delisting pun membayangi, mengingat suspensi ini sudah berlangsung lebih dari enam bulan. Situasi yang benar-benar pelik.
Artikel Terkait
IHSG Turun 0,68%, Saham SDMU dan BIPP Melonjak di Atas 34%
IHSG Turun Tipis 0,68% ke 7.623,59 di Tengah Aksi Jual Sektoral
Harga Tembaga Capai Level Tertinggi Enam Pekan, Didorong Harapan Damai Timur Tengah
Zyrex Akuisisi Lahan Rp68 Miliar di Daan Mogot untuk Ekspansi Pabrik