Suasana malam di Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (17/9) lalu, cukup hangat. Di acara haul Gus Dur yang ke-16, Yenny Wahid naik ke mimbar. Bukan untuk pidato biasa. Putri kedua Gus Dur itu menyampaikan kegelisahan yang dalam, sebuah peringatan keras untuk Nahdlatul Ulama.
Intinya, ia meminta NU waspada. Jangan sampai organisasi besar itu cuma jadi alat legitimasi bagi kepentingan politik sesaat.
Yenny kemudian bercerita tentang sebuah percakapan pribadinya. Lawan bicaranya adalah Luhut Binsar Pandjaitan, mantan Menko Marves yang kerap dituding sebagai dalang di balik perpres izin tambang untuk ormas.
Tapi menurut Yenny, Luhut justru menolak.
Alasannya jelas. Luhut yang juga pengusaha tambang paham betul kompleksitasnya. "Beliau tahu susahnya mengelola tambang. Kalau tidak dikelola dengan 'tangan dingin', tambang justru akan menyebabkan perpecahan," tambah Yenny.
Nah, di sinilah persoalannya mengerucut. Kalau bukan Luhut, siapa yang ngotot?
"Saya tanya kepada Pak Luhut, siapa yang ngotot untuk memberikan izin tambang? Dikatakan ada seorang menteri yang ngotot memberikan tambang," kata Yenny.
Ia mencium aroma tak sedap. Ada nuansa partisan di balik kebijakan ini. Menurut informasi yang ia terima dari beberapa wartawan, menteri itu memberi izin tambang khusus untuk ormas keagamaan yang punya afiliasi dengan partainya.
Artikel Terkait
Analis Bongkar Agenda Terselubung di Balik Janji Kerja Mati-Matian Jokowi untuk PSI
Kata Cangkem Dahnil Anzar Picu Gelombang Tuntutan Pencopotan
Desakan Pencopotan Dahnil Menguat, dari Internal Muhammadiyah
Kritik PBNU: Respons Dahnil Dinilai Abaikan Etika Pejabat Publik