PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) menutup tahun 2025 dengan catatan yang beragam. Di satu sisi, emiten alat berat ini berhasil mendongkrak penghasilan netonya hingga mencapai USD 401,07 juta, atau setara dengan Rp 6,71 triliun jika mengacu pada kurs Rp 16.754 per dolar AS. Angka itu menunjukkan kenaikan lumayan, sekitar 8,62 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun begitu, laporan keuangan yang dirilis lewat BEI pada Selasa (3/2) itu juga menyimpan berita kurang menggembirakan. Laba kotor perusahaan justru menyusut 3,18 persen year-on-year, menjadi USD 76,7 juta. Penurunan juga terjadi pada laba usaha, yang melambat 8,13 persen ke posisi USD 29,82 juta.
Yang paling terasa mungkin di laba tahun berjalan. Hingga akhir 2025, laba ini tercatat USD 18,57 juta, turun cukup signifikan 12,36 persen dari capaian sebelumnya. Jadi, meski pendapatan naik, profitabilitasnya justru tertekan.
Lalu, apa yang mendorong kenaikan penghasilan itu? Ternyata, penjualan alat berat ke pihak ketiga menjadi penyokong utamanya. Bagian ini melonjak 23,62 persen, dari USD 216,93 juta menjadi USD 268,17 juta. Kontribusinya pun tak main-main, menopang 66,86 persen dari total penghasilan HEXA sepanjang tahun.
Prospek ke depan, menurut sejumlah pelaku industri, masih berawan tapi ada secercah harapan. Immawan Priyambudi, Ketua IV PAABI, memproyeksikan pasar alat berat secara umum masih akan berada dalam tekanan.
“Tapi kita melihat at least ada sedikit optimisme di sana karena proyek-proyek strategis pemerintah saat ini termasuk Giant (Sea) Wall ya, itu termasuk juga food estate dan kemudian juga dari sisi pembangunan tol dan segala macam itu masih menjadi opportunity yang cukup besar buat kita,” tutur Immawan.
Dia memperkirakan, industri alat berat baru akan berpotensi tumbuh 5 hingga 10 persen di tahun 2026, seiring membaiknya aktivitas proyek pemerintah. “2025, in overall turun 5 persen total ya. Tahun depan hanya tumbuh 5-10 persen dari kontraksi ini,” lanjutnya.
Ikut Pemulihan Pascabencana di Sumatera
Di tengah dinamika bisnis itu, HEXA juga terlibat dalam aksi sosial. Presiden Direktur perusahaan, Dwi Swasono, menjelaskan keterlibatan perseroan dalam pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera. Mereka menyerahkan bantuan penggunaan beberapa unit ekskavator, salah satunya kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Alat-alat berat itu difungsikan untuk hal-hal yang mendesak: membersihkan material sisa banjir, memperbaiki akses jalan, dan infrastruktur dasar yang rusak. Dukungan serupa juga disiagakan untuk wilayah Sumatera Barat, menunggu kebutuhan di lapangan.
“Selain dukungan dana, aksesibilitas merupakan kunci di masa pemulihan. Dengan mengerahkan alat berat, kami berharap dapat membantu saudara-saudara kita dan pemerintah agar proses normalisasi infrastruktur dan aktivitas ekonomi warga dapat pulih lebih cepat,” ujar Dwi.
Respons dari pemerintah daerah pun positif. Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, mengapresiasi sinergi ini.
“Alat ini sudah digunakan untuk normalisasi sungai dan pekerjaan lainnya. Semoga dapat memulihkan dan meringankan beban masyarakat pascabencana,” tambahnya.
Dengan langkah ini, HEXA berupaya menegaskan komitmennya tidak hanya pada bisnis, tetapi juga pada dukungan terhadap pemerintah dan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Artikel Terkait
IHSG Siang Ini Menguat 0,65 Persen ke 7.102,72, Ditopang Sektor Non-Keuangan
OJK: Arus Dana Asing Keluar Akibat Geopolitik Global, Bukan Fundamental Ekonomi Domestik
IHSG Dibuka Menguat 0,41 Persen ke 7.086, Seluruh Sektor Hijau di Awal Perdagangan
BNI Peringatkan Nasabah soal Modus Penipuan Digital yang Incar Data Sensitif Perbankan