Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Evaluasi Misi Perdamaian PBB

- Sabtu, 25 April 2026 | 22:30 WIB
Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Evaluasi Misi Perdamaian PBB

JAKARTA Gugurnya Kopda Rico Pramudia di Lebanon bukan sekadar kabar duka biasa. Ini alarm keras yang harus ditanggapi serius oleh semua pihak, terutama karena markas UNIFIL sendiri yang jadi sasaran serangan. Bayangkan, tempat yang seharusnya aman untuk pasukan perdamaian justru diserang. Ironis sekali.

Sampai saat ini, sudah empat prajurit TNI yang gugur di Lebanon. Angka yang tidak kecil untuk sebuah misi perdamaian.

Wakil Komisi I DPR RI, Sukamta, angkat bicara soal ini. Sabtu (25/4/2026), ia menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, situasi di lapangan sudah berubah drastis.

"Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan," ujarnya. "Ini menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi."

Legislator dari PKS itu menegaskan satu hal: perlindungan terhadap personel PBB tidak boleh dianggap enteng. Siapa pun yang terlibat dalam konflik, termasuk Israel dan aktor-aktor lain di kawasan, harus paham itu.

"Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun," tegas Sukamta.

Di sisi lain, ia mendorong PBB untuk segera melakukan evaluasi besar-besaran. Mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL harus disesuaikan dengan realitas ancaman di lapangan. Jangan sampai prosedur keamanan hanya di atas kertas, sementara di kenyataan prajurit jadi sasaran empuk.

Selain evaluasi, Sukamta juga minta investigasi yang transparan dan akuntabel. Bukan sekadar laporan formalitas. Harus ada kejelasan, harus ada yang bertanggung jawab.

Pemerintah Indonesia juga tidak bisa diam saja. Setelah Kopda Rico dan tiga prajurit lainnya gugur, sudah waktunya meninjau ulang pola penugasan. Bukan berarti Indonesia mundur dari komitmen perdamaian global, tapi keselamatan prajurit harus jadi prioritas.

"Pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian," kata Sukamta. "Tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global."

Ia menekankan, perdamaian dunia tidak boleh dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. Setiap prajurit yang gugur harus menjadi pengingat. Bahwa menjaga perdamaian butuh sistem yang kuat, perlindungan yang memadai, dan komitmen bersama dari seluruh komunitas internasional.

"Semoga para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa," pungkasnya. "Dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan."

Gugurnya Praka Rico dalam misi UNIFIL menambah duka panjang bagi Indonesia. Total prajurit TNI yang tewas di Lebanon kini menjadi empat orang. Sebelum Rico, ada Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon. Empat nama yang tidak akan dilupakan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar